Grage Aeromodelling

Komunitas Aeromodelling Nusantara
It is currently 20 Feb 2019, 21:19

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page 1, 2, 3, 4, 5  Next
Author Message
 Post subject: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 00:10 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember

mungkin temen2 sudah kenal dengan daerah banyuwangi
daerah kelahiran saya dimana percampuran budaya dan gesekan budaya membuat daerah ini begitu unik.
karena daerah ini ditinggali suku "using" yang hanya terdapat di dua kabupaten yakni banyuwangi dan jember.
adapun budaya2 yang ada disini antara lain
adalah kundaran. kundaran adalah seni yang paling melekat dalam kehidupan saya karena kebetulan saya besar di tengah2 keluarga yang berkecimpung di kesenian ini mongg dibaca sedikit artikel yang saya temukan di dunia maya


Kundaran,

Huda, Paring Waluyo | 30 - Apr - 2008
Bagi orang Banyuwangi, kundaran atau kuntulan dadaran, atau yang biasa disebut dengan kuntulan saja, sudah tidak asing lagi. Ia diminati banyak orang, pertunjukannya selalu disesaki oleh penonton tua-muda. Maklum saja, kuntulan versi baru ini boleh dibilang mewakili ruang batin masyarakat Banyuwangi kontemporer yang terbuka, cair, dinamis dan peka terhadap perubahan.

Tidak banyak yang mencatat memang, bahwa kuntulan sebenarnya memiliki sejarah yang sangat menegangkan. Ibarat sebuah arena, ia adalah ruang tempat berbagai kepentingan dipertarungkan. Ya, kuntulan sebagai arena kontestasi.

Menurut sejarahnya, kundaran sebenarnya adalah perkembangan dari kuntulan yang embrionya adalah musik hadrah. Istilah kuntulan sendiri berasal dari kata “kuntul” yaitu nama burung kuntul yang mirip bangau. Ada juga yang berpendapat nama kuntulan berasal dari kata Arab kuntubil yang artinya “terselenggaranya pada malam hari”, dimana kata tersebut berkaitan dengan aktifitas santri yang mendendangkan puji-pujian berbentuk syair barjanji dengan diiringi rebana disertai gerakan-gerakan yang monoton. Pertunjukan kuntulan sebagian besar menyajikan lagu-lagu berisi pujian terhadap Nabi Muhammad dengan para penari serba putih sehingga sekilas tampak seperti kuntul.

Dalam perkembangannya, kuntulan tidak bisa lepas dari seni hadrah barjanji. Sekitar 1950-an seni hadrah barjanji berubah nama menjadi seni hadrah kuntulan. Waktu itu, kuntulan ditarikan oleh penari (rodat) laki-laki, karena ada anggapan bahwa penari perempuan bertentangan dengan ajaran Islam. Gerakan tarinya pun masih sederhana, yakni gerak orang sedang shalat, wudu’ dan adzan. Busana yang dipakai terdiri dari baju putih lengan panjang, celana putih, dan kopyah hitam, tanpa memakai tata rias. Musik yang mengiringi hanya rebana dan nyanyian berjanjen.

Sekitar tahun 1973 mulai diadakanlah festifal kesenian kuntulan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Banyuwangi. Pada saat itu hadrah kuntulan tak hanya menggunakan musik rebana tetapi sudah dikombinasi dengan beberapa alat musik lain seperti jidor, kempul, kendang, gong, dan seperangkat gamelan Banyuwangi. Pada tahun 1979, Sumitro, pimpinan sanggar “Jinggo Putih” mengganti para penari yang semula laki-laki dengan penari perempuan. Gerakan tari pun diubah menjadi lebih dinamis dengan sedikit menyimpang dari gerak sebelumnya.

Baru kemudian pada tahun 1984, Sahuni, lulusan STSI Solo yang kini bekerja di Dinas Pariwisata Banyuwangi dan pimpinan sanggar seni “Sidopekso” menggarap kuntulan baru yang disebut kuntulan dadaran atau disingkat kundaran. Dari versi Sahuni inilah kuntulan benar-benar berubah. Lagu-lagu kuntulan dikolaborasikan dengan lagu gandrung seperti padha nonton dan jaran goyang, disamping lagu-lagu pesan pembangunan yang membuat isi dakwah Islam tinggal 20 persen saja dari keseluruhan pentas. Demikian juga tariannya yang mirip dengan motif dari Gandrung.

Di tangan Sahuni inilah kuntulan tidak lagi monoton dan membosankan, melainkan menjadi semakin variatif, dinamis, dan pada akhirnya memperoleh apresiasi penonton yang luas dan beragam, tidak terbatas pada komunitas pesantren. Dengan demikian Sahuni juga semakin membuka kemungkinan lebih luas bagi kuntulan untuk menembus pasar komersial, dan oleh karena itu juga menuntut pemenuhan selera pasar.

Tepat ketika kundaran hasil inovasi Sahuni memperoleh sambutan masyarakat dan makin mendominasi pertunjukan kuntulan, maka para santri yang menganggap dirinya sebagai pewaris sah seni kuntulan menuding telah ada penyimpangan substansial dalam seni kuntulan. Bahkan mereka mengecam sebagai kemaksiatan dan kemungkaran, karena ada pembacaan teks barjanji yang terpotong-potong sehingga makna sakralnya dianggap hilang. Selain itu pemujaan nama Allah diiringi dengan tari yang tidak etis.

Namun sebaliknya pula, ada kalangan yang menerima pembaruan dengan menyatakan bahwa kuntulan masih tetap didukung oleh kalangan pesantren yang tinggal di pedesaan dengan misi dakwahnya.

Reaksi pro kontra ini tidak hanya berlangsung di kalangan pesantren saja, tetapi juga melibatkan tarik menarik kepentingan di instansi-instansi pemerintah setempat. Setiap ada pertunjukan hadrah caruk selalu terjadi kericuhan oleh histeris para penonton, baik oleh perorangan maupun kelompok. Selain itu timbulnya keonaran tidak lagi karena pergeseran nilai dalam kuntulan, tetapi lebih disebabkan oleh persaingan antar kelompok kesenian. Kelompok yang pro terhadap kesenian kuntulan memperoleh dukungan dari pihak Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Depdikbud dan pihak Kesra dengan mengadakan berbagai pembahasan yang menghasilkan batasan-batasan dalam perkembangan kesenian kuntulan, serta dukungan dalam bentuk penyelenggaraan festifal. Di sisi lain, kebijakan DKB juga mendorong kuntulan tidak saja sebagai tontonan yang bersifat komersial, melainkan sebagai kesenian yang sarat dengan muatan dakwah dan pesan pembangunan.

Sementara Dewan Kesenian dan Dinas Pariwisata semakin agresif, hingga kini kalangan pesantren dan kelompok puritan Islam pun tetap bergeming. Mereka terus menuntut, kuntulan harus dikembalikan ke identitas aslinya yang Islami. Dan oleh karena itu segala pertunjukan yang berbau maksiat dan mengotori warna Islam harus segera dihilangkan.

Dari perjalanan sejarah kuntulan ini memang tidak bisa dipastikan kapan pertarungan dan tarik menarik kepentingan ini berakhir. Yang bisa dipastikan hanyalah kenyataan, bahwa semua pihak: para seniman, Dewan Kesenian, Dinas Pariwisata, dan kelompok-kelompok Islam sedang berkompetisi menjadi yang paling dominan dalam merepresentasikan kuntulan. Persoalannya memang apakah interaksi berbagai kepentingan ini berjalan dalam ruang dialog yang sehat, ataukah sebaliknya? Desantara/ Huda, Paring Waluyo.

video kundaran dari kampung sebelah

ini yang asli kundaran dari kampung using (kemiren)

=bersambung=


Last edited by dulbehek on 02 May 2012, 22:37, edited 4 times in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 07:36 
Offline
Administrator
Administrator
User avatar

Joined: 18 Jan 2007, 14:10
Posts: 4190
Location: semarang, jateng
makasih mas dul....., ini adalah informasi kesenian daerah di ujung timur-selatan jawa yg (mungkin) jarang terekspose , maybe ada sedikit video yg bisa diuplod di youtube ? dgn judul yg menarik pasti ada yg nge'like' ,minimal nonton lah , apalagi digabung dgn info video wisatanya sekaligus dgn aerial viewnya.......
.salam .....nf.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 14:16 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
secepatnya pak foto aerial akan saya upload.
semoga temen2 bisa tau klo di ujung pulau jawa terdapat objek wisata dan budaya yang tidak kalah dengan bali


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 14:24 
Offline
Administrator
Administrator
User avatar

Joined: 18 Jan 2007, 14:10
Posts: 4190
Location: semarang, jateng
uplod dan expose ya sobatku.....................


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 14:29 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
ijen blue flame
Image
Kawah Ijen merupakan objek wisata terkenal, yang telah dikenal oleh para wisatawan domestik dan asing karena keindahan alamnya. Kawasan Wisata Kawah Ijen masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen dengan luas 2.560 hektare, termasuk hutan wisata seluas 92 hektare. Gunung Ijen sendiri merupakan gunung api yang masih aktif. Terletak pada deretan gunung api di pulau jawa bagian timur, berada di kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.

Kawah ijen yang berada di ketinggian 2.386 m.dpl, merupakan kawah danau terbesar dipulau jawa, kawah berbentuk ellips dengan ukuran kurang lebih 960 x 600 m dengan ketinggian permukaan air danau kurang lebih 2140 m.dpl dengan kedalaman danau kurang lebih 200 m, serta merupakan danau terasam didunia dengan ph 0,5. Kawah belerang berada dalam sulfatara yang dalam. Kedalamannya 200 m. dan mengandung kira-kira 36 juta meter kubik air asam beruap, diselimuti kabut berbau belerang yang berputar-putar diatasnya.

Terdapat lokasi penambangan yang menjadi keunikan utama yang lain dari wisata Kawah Ijen selain tentunya keindahan panorama yang ada di sana. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar kawah, sejajar dengan permukaan danau. Asap putih pekat selalu keluar menyembur melalui pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Dari sinilah lelehan fumarol berwarna merah menyala meleleh keluar dan langsung membeku terkena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil.

Penambangan belerang di sini masih memakai cara tradisional dimana pengangkutannya dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Beban yang diangkut masing-masing penambang bisa mencapai berat 85kg. Beban ini luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3km.


Letusan Gunung Ijen yang tercatat dalam sejarah hanya terjadi empat kali yaitu tahun 1796, 1817, 1913, dan 1936. Peningkatan aktifitas Gunung Ijen terjadi pula pada tahun 1918, 1921, 1923, 1927, 1929, 1933, 1941. Pada tahun 1952 terjadi letusan asap dengan tinggi lebih kurang 1000 meter dari puncak, namun tidak ada korban jiwa.

Jalur Pendakian
Untuk menuju Kawah Ijen, terdapat dua jalur utama, yaitu dari arah Bondowoso-Wonosari dan Banyuwangi-Licin. Dari arah Bondowoso mobil bisa mencapai Pal Tuding yang merupakan awal pendakian, sedangkan dari arah Banyuwangi kita harus berjalan 4 jam dari Desa Jambu untuk mencapai Pal Tuding.

Jalur Bondowoso
Dari Bondowoso, kita naik angkutan umum (minibus) menuju Wonosari dilanjutkan lagi ke Sukosari, dan ganti kendaraan lagi menuju Sempol. Dari Sempol kita menuju ke Pal Tuding yang berjarak 13 Km, perjalanan membutuhkan waktu 30 menit dengan kendaraan. Karena tidak ada kendaraan umum, untuk menyingkat waktu, dianjurkan untuk menyewa kendaraan dari Wonosari atau Sempol sampai ke Pal Tuding. Perjalanan menuju Pal Tuding ini kita melewati padang rumput dan kebun kopi yang sangat luas.
Di Pal Tuding kita harus melaporkan pendakian kita kepada petugas PHPA, dan membeli tanda masuk. Kita bisa menginap di Pos PHPA ini dengan biaya sekedarnya, juga menyewa sleeping bag bila diperlukan. Dianjurkan untuk menginap di Pos PHPA ini, atau di Sempol, karena perjalanan ke Kawah Ijen hanya 2 jam saja dari Pal Tuding ini.

Dari Pal Tuding perjalanan terus menanjak melintasi jalan yang cukup lebar dengan pemandangan hutan alam yang indah. Diperlukan waktu 1,5 jam maka kita akan sampai di Pondok Penambangan Belerang. Pondok ini dibuat kantor penampungan hasil belerang yang di dapat dari kawah. Di tempat ini kita bisa membeli minuman dan makanan ringan. Dari Pondok ini hanya diperlukan waktu 0,5 jam lagi melewati jalanan yang datar kita akan sampai di Kawah Ijen.


Kawasan Kawah Ijen mempunyai panorama alam yang sangat indah. Suhu di sekitar kawah Ijen dapat mencapai 12-18 C dan Curah hujannya mencapai 3.000-4.000 mm/tahun. Di sekitar lereng kawah terhampar pohon Manisrejo yang berdaun kemerahan, sedangkan batuan dinding kawah berwarna belerang, kekuningan, kondisi-kondisi inilah yang membuat panorama alam disini begitu mengesankan untuk dinikmati.

Jalur Banyuwangi
Dari kota Banyuwangi, kita menuju ke terminal Sasak Perot/Banjarsari. Dari Sasak perot kita ganti kendaraan minibus ke jurusan Licin. Dari desa Licin kita menuju kearah Sodong lewat Jambu dengan naik Truk perkebunan atau ojek dan bisa juga dengan travel karena jalanan mudah di lalui oleh kendaraan. Perjalanan melewati perkebunan kopi dan cengkeh serta hutan tropika yang indah. Jarak Licin ke Sodong 8 Km (2,5 Jam). Setelah tiba di Sodong kita melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Paltuding dengan Truk/Ojek. Paltuding merupakan tempat bertemunya jalur lewat dari arah Bondowoso dan arah Banyuwangi.

Kalau punya cukup waktu, bila memulai perjalanan dari arah Bondowoso, dianjurkan turun ke arah Banyuwangi, selain transportasi umum lebih mudah di Jambu, juga bisa menikmati pemandangan hutan alam yang indah disepanjang perjalanan dari Pal Tuding ke Jambu, juga sekaligus menikmati pemandangan alam pantai Selat Bali di Banyuwangi-Ketapang yang berpantai landai.

Dari Banyuwangi kita bisa meneruskan perjalanan ke Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo untuk menyaksikan habitat terbesar di Jawa untuk Kerbau Liar, Rusa dan Banteng. Kita juga bisa meneruskan perjalanan ke Pulau Bali.

Suara Kebebasan http://capsulx368.blogspot.com/2010/08/ ... z1tlSZ5UVO


foto2 wilayah ijen
fotografer: tik JBR
Image
Image
Image
dan foto paling atas adalah foto api biru di puncak gunung ijen


Last edited by dulbehek on 02 May 2012, 17:58, edited 2 times in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 14:32 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
jadwal aktualisasi kesenian banyuwangi
Image


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 14:36 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
ini adalah foto daerah alun2 sritanjung yang mau cari makanan n sekedar refresing atau mau arial fotografi ini adalah spot yang enak (kusus sayap putar)
sedang untuk sayap tetap bisa take off di alun2 belambangan dan heading ke arah barat untuk memotret daerah ini atau heading ke timur untuk memotret pantai
Image


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal budaya daerah ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 16:25 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
next adalah gandrung. ini adalah tarian yang saya sukai karena kebetulan kakak perempuan saya dulu adalah penari gandrung kabupaten n paling sya takuti he he he he. pastikan buat yang ga bisa nari liat nya paling belakang
Gandrung: Tarian Perlawanan Orang Using
Jika dibanding dengan masyarakat lain di Jawa Timur, tampaknya komunitas Using memiliki seni tradisi yang lebih banyak dan beragam. Sebut saja beberapa diantaranya; Gandrung, Jinggoan, Mocoan, Kuntulan, dan Angklung. Masing-masing jenis seni ini pun memiliki maknanya sendiri-sendiri. Dari semuanya mungkin Gandrung menempati posisi yang istimewa. Begitu istimewanya, sehingga pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengukuhkan Gandrung sebagai maskot Kabupaten yang terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur itu, menggantikan lambang sebelumnya; ular berkepala Gatot Kaca. Pengukuhan itu diprakarsai sendiri oleh Bupati Banyuwangi, Samsul Hadi, bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Banyuwangi, 18 Desember 2002 yang lalu. Soal penetapan Gandrung sebagai maskot Banyuwangi tidaklah tanpa kontroversi. Anggota DPRD dari PPP menolak dengan keras keputusan ini, karena menurut mereka, gandrung tidak sesuai dengan Islam, padahal mayoritas masyarakat Banyuwangi pemeluk Islam. Pandangan politisi dari PPP ini mendapat tanggapan serius dari kalangan budayawan yang menganggap bahwa Gandrung tidak melanggar norma-norma Islam, dan justru kesenian inilah yang khas Banyuwangi. Para budayawan juga menganggap bahwa Gandrung mengandung nilai-nilai simbolis perjuangan wong Blambangan sekaligus identik dengan jati diri orang Using dan juga merepresentasikan karakter orang Using yang berakhlak aclak, ladak, dan bingkak (sok tahu, arogan dan tak mau tahu urusan orang lain).

Sebagai tari pergaulan, gandrung tentu saja sangat popular, walaupun dalam beberapa hal mirip dengan tayub, gambyong, jogged, lengger, teledhek, dan ketuk tilu di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura Pendalungan. Secara historis, Gandrung tak dapat dilepaskan dari Seblang, sebuah kesenian yang sarat ritual yang keberadaannya terbatas hanya di dua tempat yang terletak di sebelah barat Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan desa Olehsari. Pentas Seblang diselenggarakan setahun sekali sebagai upacara ritual bersih desa atau selamatan desa dalam rangka menolak bala, keselamatan warga desa, penyembuhan, kesuburan, dan mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman warga desa. Meskipun unsur hiburan dalam gandrung tampak menonjol, namun di dalamnya terdapat muatan kepercayaan kolektif yang sangat kuat.
Kekhasan Gandrung Banyuwangi tampak pada lirik lagunya yang berbahasa Using. Sementara tari-gamelan mengesankan perpaduan Jawa-Bali adalah tampilan yang membedakan dari kesenian kesenian Jawa dan Sunda. Gending-gending yang dinyanyikan berkarakter perjuangan. Lirik lagu-lagu tersebut menggambarkan etos perjuangan rakyat Blambangan sejak zaman VOC. Di dalamnya banyak menggunakan simbol yang hanya dimengerti oleh masyarakat Banyuwangi.

Menurut cerita lisan, kesenian gandrung muncul bersamaan dibangunnya kota Banyuwangi pada saat pemerintahan Mas Alit. Antara lain dikisahkan: Setelah perang Bayu usai, Jaksanegara mengundurkan diri sebagai bupati. Atas usul patih Blambangan yang mendapat sebutan Ki Juru kunci, kompeni menunjuk Mas Alit yang ada di Bangkalan sebagai bupati pada tanggal 7 Desember 1773. Sebelum Mas Alit dilantik sebagai bupati dengan gelar Raden Tumenggung Wiraguna pada tanggal 1 Februari 1774, ia mengusulkan agar ibukota Blambangan dipindahkan. Kompeni menyetujui dengan menawarkan tiga tempat, yaitu Kotta, Ulupangpang, dan Pakusiram. Namun Mas Alit menolak dan menawarkan membuat kota baru di sebelah utara dengan membabad hutan Purwaganda. Setelah dilantik Mas Alit mulai mengerahkan tenaga membabat hutan Purwaganda yang kemudian dikenal dengan nama kota Banyuwangi. Bersamaan dengan dibangunnya kota Banyuwangi muncul kesenian yang diberi nama gandrung.

Sejarah mencatat peristiwa puputan (perang habis-habisan) yang heroik itu terjadi di Bayu, Kecamatan Songgon Banyuwangi. Peristiwa ini amat bersejarah sehingga dijadikan sebagai hari lahir Kabupaten Banyuwangi (meski masih menjadi kontroversi hingga sekarang). Peperangan ini pulalah yang melegendakan nama Sayu (Mas Ayu) Wiwit sebagai tokoh pejuang wanita dari Banyuwangi yang menjadi inspirasi munculnya Tarian Seblang. Bahkan oleh sebagian masyarakat, arwah Sayu Wiwitlah yang dipercaya telah menuntun penari Seblang, terutama pada bagian puncaknya ketika penari Seblang sedang melantunkan gending Sukma Ilang.

Perang Bayu sendiri terjadi ketika VOC berkeinginan untuk menancapkan dominasinya di bagian timur Pulau Jawa sebagai upaya untuk merebut Bali. Watak imperialis yang diperlihatkan oleh VOC tentu saja membangkitkan perlawanan dari rakyat Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Jagapati alias Rempeg. Tetapi akhirnya Blambangan jatuh ke tangan VOC setelah benteng pertahanan di Bayu berhasil dikuasai. Episode inilah yang dilukiskan oleh Hasan Ali sebagai satu tragedi bagi sejarah rakyat Blambangan. “Peperangan ini memakan korban tidak kurang dari 60.000 orang rakyat dari jumlah keseluruhan masyarakat Blambangan yang waktu itu tidak sampai 65.000 orang” tulis Hasan Ali dalam Sekilas Puputan Bayu: Tonggak Sejarah Hari Jadi Banyuwangi.

“Betapapun sakitnya kekalahan dalam perang itu, amat lebih sakit lagi melihat kenyataan bahwa yang memerangi rakyat Blambangan saat itu adalah saudara-saudara sesama pribumi dari Jawa dan Madura yang diperalat oleh VOC,” tambah Hasan Ali yang juga ayah artis Emilia Contessa dan kakek artis Denada ini. “Karena itu,” sambung Hasan Ali, “Kekecewaan masyarakat Using sempat membuat suku Using menutup diri terhadap komunitas luar. Bahkan dari kekecewaan sejarah itulah nama ‘Using’ dipergunakan untuk mengidentifikasi masyarakat Blambangan.”

Konon, akibat perang Bayu, sebagian besar pasukan melarikan diri ke hutan atau menyingkir ke pedalaman. Dalam jangka waktu yang lama, mereka bertahan di hutan, melakukan perang gerilya. Komunikasi diantara para gerilyawan dapat terjalin berkat partisipasi gandrung lanang yang pada awal pemunculannya digunakan sebagai media perjuangan. Para gandrung lanang menari sambil membawakan lagu-lagu perjuangan (bahasa sandi) mendatangi tempat-tempat yang dihuni rakyat Blambangan untuk memberi informasi tentang keberadaan tentara Belanda. Selain itu mereka juga mempengaruhi dan menganjurkan rakyat Blambangan agar meninggalkan hutan, keluar dari tempat persembunyiannya untuk segera membentuk masyarakat baru.

Pada masa pemerintahan Mas Alit, kesenian Gandrung banyak mengalami perubahan baik dalam tata busana, instrumen musik, maupun lagu-lagu (gending-gending) paju untuk mengiringi tari dan seni pencak silat. Perubahan juga terjadi pada primadona gandrung, yang semula diperankan oleh pria kemudian diganti perempuan. Pola pementasan gandrung terdiri atas: Jejer, Paju, Seblang-seblang. Musik iringan gending jejer yang semula gegap-gempita beralih menjadi irama lembut dan penari mulai melantunkan tembang Padha Nonton sebagai lagu wajib. Gending Padha Nonton terdiri atas delapan bait dengan tiga puluh dua baris. Biasanya gending dilagukan delapan baris saja dan untuk melagukan delapan baris berikutnya selalu dimainkan dua atau tiga lagu sebagai selingan. Dalam gending selingan banyak dipadati pantun-pantun daerah setempat yang disebut basanan dan wangsalan, seperti tampak dalam syarir Padha Nonton berikut:

Padha nonton

Pundhak sempal ring lelurung

Ya pedhite, pundhak sempal

Lambeyane para putra

Para putra

Kejala ring kedhung liwung

Ya jalane jala sutra

Tampange tampang kencana

Kembang Menur

Melik-melik ring bebentur

Sun siram-siram alum

Sunpethik mencirat ati

Lare angon

Gumuk iku paculana

Tandurana kacang lanjaran

Sak unting kanggo perawan

Kembang gadhung

Sak gulung ditawa sewu

Nora murah nora larang

Kang nawa wong adol kembang

Sumbarisena ring Tenmenggungan

Sumiring payung agung

Lambayano membat mayun

Kembang abang

Selebrang tiba ring kasur

Mbah Teji balenana

Sunenteni ring paseban

Ring paseban

Dhung Ki Demang mangan nginum

Selerengan wong ngunus keris

Gendam gendhis kurang abyur

Gending Padha Nonton sebenarnya puisi yang menggambarkan perjuangan untuk membangkitkan semangat rakyat Blambangan melawan segala bentuk penjajahan. Meskipun demikian, keindahan syairnya juga mampu menciptakan ritme vokal untuk mengiringi tari penghormatan sebagai ucapan selamat datang bagi para tamu, seperti halnya tarian gambyong pada awal pertunjukan tayub atau Kidung Salamat pada pertunjukan jaipong. Pesan perjuangan penuh makna simbolis ini dituangkan melalui kata-kata sandi. Makna pesan inilah yang kemudian menjadi dasar perwatakan masyarakat Using dalam menciptakan identitasnya.

Perlawanan

Kesenian Gandrung, tidak lain adalah gambaran perlawanan kebudayaan sebuah masyarakat. Perlawanan terhadap berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik maupun pencitraan negatif yang berulang kali terjadi dalam kesejarahan masyarakat Using. Dalam konteks pencitraan, misalnya tampak bagaimana sejarah nasional menggambarkan sosok Ronggolawe yang memberontak karena menjadi korban intrik internal di lingkaran Prabu Wijaya, Raja Majapahit pertama. Nasib Ronggolawe berakhir sebagai pemberontak di bumi Sadeng. Padahal, masyarakat setempat mencatat nama Ronggolawe sebagai tokoh yang berperan sangat besar dalam membantu Prabu Brawijaya mendirikan kerajaan Majapahit. (Dan nasib serupa pun dialami oleh tokoh-tokoh Majapahit sejamannya: Lembu Sora dan Nambi).

Masyarakat dan budaya Using secara historis adalah masyarakat Blambangan, sebuah kerajaan di wilayah ujung timur Pulau Jawa. Sedangkan lahirnya kota Banyuwangi, sebagai nama kabupaten erat kaitannya dengan kerajaan Blambangan yang pada awalnya lebih merupakan bagian dari kerajaan Majapahit. Tapi daerah yang dikenal subur bahkan merupakan lumbung padi Majapahit, kemudian menjelma menjadi pusat kekuatan oposisi yang dalam versi Majapahit maupun kerajaan Jawa Kulon sesudahnya selalu dikategorikan sebagai “konsentrasi pemberontak” dan memuncak dalam peperangan Paregreg (1401-1404). Perang Paregreg sendiri mengilhami penulis cerita perang antara Damarwulan dan Menakjinggo yang kemudian sering dilakonkan dalam pertunjukan Ketropak Mataram dan Jinggoan Banyuwangi dalam versi yang berlawanan. Jika dalam Ketropak Mataram Menakjinggo ditampilkan sebagai pemberontak, penindas rakyat, bertubuh cacat, maka di Jinggoan Banyuwangi ia ditampilkan sebagai pahlawan, gagah berani, tampan, dan memeperdulikan nasib rakyatnya.

Semua gambaran negatif tentang Minak Jinggo (Bre Wirabumi) itu ditolak keras oleh Budayawan Banyuwangi, Hasan Ali. “Itu tidak benar. Salah besar kalau Bre Wirabumi dikatakan buruk muka. Dia ngganteng, hanya saja memang ada goresan-goresan luka di wajahnya. Itupun karena pertempurannya dengan Kebo Marcuet. Dan ia berangkat ke Majapahit bukan dengan maksud memberontak, tapi sekedar ingin menagih janji Majapahit.”

Senada dengan Hasan Ali, Andang CY, seorang seniman kawakan Banyuwangi menuturkan, ”Menak Jinggo sesungguhnya adalah pahlawan masyarakat Banyuwangi. Pertama, ketika dia menumpas Kebo Marcuet yang lalim. Kedua, ketika ia mengangkat senjata melawan Majapahit yang menurutnya telah mengingkari janji untuk menghadiahinya Putri Kencono Wungu setelah mengalahkan Kebo Marcuet.” Nyatanya, Menak Jinggo dikalahkan oleh Damarwulan, seorang anak bekel (tukang kuda) yang kemudian memperistri Putri Kencono Wungu. Bahkan, kekalahan Menak Jinggo inipun berlanjut sampai pada penulisan sejarah tentangnya.

Hikmah

Sebagai satu daerah strategis untuk berinteraksi dengan Nusantara bagian timur, sejak dulu Blambangan tidak lepas dari incaran kerajaan-kerajaan besar di Jawa, termasuk Mataram Islam. Tercatat beberapa kali Sultan Agung melancarkan ekspedisinya untuk menaklukkan Blambangan, bersaing dengan Kerajaan Buleleng Bali. Meskipun gagal, usaha penaklukan ini toh telah menyakitkan perasaan masyarakat Blambangan.

Bisa jadi, letak Banyuwangi sebagai perlintasan antar kebudayaan –yang menjadikannya menjadi ajang klaim dan perebutan wilayah geografis– membawa hikmah tersendiri bagi pengembangan kebudayaan Using. Pergesekan kebudayaan sebagai implikasi dari pertarungan perebutan geografis telah mendewasakan produk kebudayaan Using sehingga menjadi sangat fleksibel terhadap unsur-unsur kebudayaan dari luat. Maka corak produk kebudayaan masyarakat Using—sebagaimana juga halnya kebudayaan Jawa—sesungguhnya kental dengan nuansa “sinkretik” dan “akulturatif”.

Orang tentu dapat melihat bagaimana maskot Kabupaten Banyuwangi sebelum Gandrung adalah ular naga berkepala Gatotkaca. Ular Naga adalah makhluk dalam mitologi Cina. Sementara Gatotkaca adalah adopsi yang dilakukan seniman wayang era Demak (Sunan Kudus dan Kalijaga) terhadap cerita Mahabarata dari India. Atau hadrah Kuntulan, Barongan Using, Angklung Caruk dan masih sangat banyak lagi.

Adakah ini semacam olok-olok kebudayaan dengan bungkus sanepan yang sangat halus? Bahwa siapapun –dan apapun– yang melintasi wilayah kebudayaan Using harus menerima kenyataan bahwa dirinya sedang dipribumikan oleh masyarakat Using. Seperti Segitiga Bermuda atau Lubang Hitam (Black Hole) di antariksa yang akan menyedot setiap materi yang melintasinya? Desantara

darijajagbanyuwangi.blogspot.com


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 17:35 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
next adalah seblang
tarian penuh mistis yang ditarikan oleh perawan (olesari) dan di tarikan setiap bulan Syawal. bisa dibilang ini tarian cukup terkenang karena
xi xi xi xi xi. rahasia
Seblang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Ritual Seblang adalah salah satu ritual masyarakat Using yang hanya dapat dijumpai di dua desa dalam lingkungan kecamatan Glagah, Banyuwangi, yakni desa Bakungan dan Olihsari. Ritual ini dilaksanakan untuk keperluan bersih desa dan tolak bala, agar desa tetap dalam keadaan aman dan tentram. Ritual ini sama seperti ritual Sintren di wilayah Cirebon, Jaran Kepang, dan Sanghyang di Pulau Bali.

Penyelenggaraan tari Seblang di dua desa tersebut juga berbeda waktunya, di desa Olihsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri, sedangkan di desa Bakungan yang bersebelahan, diselenggarakan seminggu setelah Idul Adha.

Para penarinya dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Di desa Olihsari, penarinya haruslah gadis yang belum akil baliq, sedangkan di Bakungan, penarinya haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas yang telah mati haid (menopause).

Tari Seblang ini sebenarnya merupakan tradisi yang sangat tua, hingga sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Seblang pertama yang diketahui adalah Semi, yang juga menjadi pelopor tari Gandrung wanita pertama (meninggal tahun 1973). Setelah sembuh dari sakitnya, maka nazar ibunya (Mak Midah atau Mak Milah) pun harus dipenuhi, Semi akhirnya dijadikan seblang dalam usia kanak-kanaknya hingga setelah menginjak remaja mulai menjadi penari Gandrung.

Tari Seblang ini dimulai dengan upacara yang dibuka oleh sang dukun desa atau pawang. Sang penari ditutup matanya oleh para ibu-ibu yang berada dibelakangnya, sambil memegang tempeh (nampan bamboo). Sang dukun mengasapi sang penari dengan asap dupa sambil membaca mantera. Setelah sang penari kesurupan (taksadarkan diri atau kejiman dalam istilah lokal), dengan tanda jatuhnya tempeh tadi, maka pertunjukan pun dimulai. Si seblang yang sudah kejiman tadi menari dengan gerakan monoton, mata terpejam dan mengikuti arah sang pawang atau dukun serta irama gendhing yang dimainkan. Kadang juga berkeliling desa sambil menari. Setelah beberapa lama menari, kemudian si seblang melempar selendang yang digulung ke arah penonton, penonton yang terkena selendang tersebut harus mau menari bersama si Seblang. Jika tidak, maka dia akan dikejar-kejar oleh Seblang sampai mau menari.

Musik pengiring Seblang hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Olihsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal.

Dari segi busana, penari Seblang di Olihsari dan Bakungan mempunyai sedikit perbedaan, khususnya pada bagian omprok atau mahkota.

Pada penari Seblang di desa Olihsari, omprok biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, sedangkan bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Pada penari seblang wilayah Bakungan, omprok yang dipakai sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Olihsari. Disamping unsure mistik, ritual Seblang ini juga memberikan hiburan bagi para pengunjung maupun warga setempat, dimana banyak adegan-adegan lucu yang ditampilkan oleh sang penari seblang ini.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 18:05 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
next adalah gredoan
4 kali aku diajak ikut acara ini tapi 4 kali juga tak tolak
alasane simpel
"saya masih ga mau cari jodoh"
:ha3 :ha3 :ha3 :ha3 :ha3
Tradisi Gredoan.Jodoh Dari Dapur ke Dangdut

Tradisi Gredoan masyarakat sub kultur Using,Banyuwangi,Jawa Timur,dilahirkan sebagai instrument mempertemukan lelaki dan perempuan sebagai proses menuju perjodohan secara bermartabat.tradisi itu kini mengalami pergeseran.Mar’ati (38) masih ingat jelas taktala diadakan gredoan di kampungnya,Dusun Banyuputih,Desa macanputih,Kecamatan Kabat,kabupaten Banyuwangi. Sebagai seorang gadis yang sedang mekar berumur 15-17 tahun, ia selalu berada di dapur membantu masak sambil menanti di gredo (tepatnya;ditaksir) para pemuda. Para pemuda mengintip dirinya lebih dulu dari celah dinding gedek (anyaman bambu). Kemudian para pemuda secara bergantian masuk melalui dapur dan berkenalan. Kalau salah seorang pemuda merasa cocok dengan dirinya, esok harinya pemuda itu datang ke rumahnya. “ Dulu ya banyak yang naksir saya. Tetapi akhirnya saya menikah tidak dari gredoan,” kata Mar’ati. Dia menikah dengan teman sekantornya tahun 1991.
Peristiwa itu terjadi tahun1988 sampai 1990. Fenomena Gredoan – seorang pemuda bertemu dengan gadis atau janda di dapur ,bersalaman dan ngobrol – berbeda dengan fenomena tahun 1960-an.KH.Nur Muttohir (77) tokoh masyarakat desa Macanputih,masih ingat gredoan itu dilakukan dengan pihak lelaki mengintip melalui celah dinding gedek kemudian memasukan lidi. Si wanita memotong ujung lidi pertanda setuju di-gredo. Lantas terjadi percakapan yang dibatasi dinding dengan cara basanan atau berpantun.Jika setuju esoknya si lelaki datang melanjutkan hubungan.” Kalau kedua pihak setuju,tak perlu lama lagi mereka menikah,” katanya. “ Acara gredoan memang setiap tahun diadakan.Tetapi model seperti zaman saya muda sudah tidak ada lagi.Kan sekarang sudah hampir tidak ada rumah berdinding gedek.Sekarang sudah banyak media untuk cewek dan cowok berkenalan,” ujar Mar’ati.
Format Gredoan pada awal abad ke-21 ini memang berubah,seperti yang terjadi Senin (14/2/2011) malam lalu. Seorang lelaki menggredo perempuan di sekitar panggung music dangdut. Tidak ada beda dengan gaya gaul anak-anak muda pada umumnya di tempat lain.” Sekarang kalau ceweknya mau ya tukar-tukaran nomor handphone,” ujar Ny.Sumarni,isteri kepala Desa Macanputih,Muhammad Farid. Gredoan berasal dari bahasa Using “gredu ” atau bahasa jawa Kuno “gridu ” yang berarti menggoda. Merupakan tradisi masyarakat Using,suatu subkultur di Jawa Timur,termasuk subkultur Arek,Mataraman,Madura,Pandalungan dan Tengger. Masyarakat subkultur Using merupakan mayoritas penduduk Banyuwangi. Secara fisik tidak ada bedanya antara masyarakat Using dan Jawa. Ciri utamanya adalah dialeknya.
Adapun Gredoan hanya ada di empat desa yaitu; Cangkring Kecamatan Rogojampi dan tiga desa di kecamatan Kabat yaitu Desa Gombolirang,Macanputih dan Tambong. Namun di Cangkring,beberapa tahun ini tidak diadakan gredoan.Tahun ini Gombolirang dan Tambong juga absen karena gagal panen padi akibat diserang wereng coklat.Praktis,tinggal desa Macanputih yang tahun ini mengadakan gredoan yaitu Dusun Banyuputih dan Dusun Macanputih Krajan yang digelar 5 Maret 2011. “ Kalau Macanputih tidak pernah absen.waktunya pun tetap,malam 12 Maulud untuk Banyuputih dan akhir Maulud untuk Macanputih Krajan,” ujar Muhammad Farid.

Koreksi Pranata Sosial
Tidak ada stupun orang yang memastikan kapan tradisi gredoan mulai digelar. Budayawan Using,Hasnan Singodimayan,mengatakan tradisi itu sudah tua.Pada awal tahun 1960-an dia sudah ikut gredoan. Di desa-desa itu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau muludan yang dipelihara masyarakat Banyuwangi sampai sekarang dijadikan sarana untuk silahturahim. Disamping memberikan nasi dan penganan kepada saudara yang tinggal di luar desa,juga dipakai sebagai momentum mengumpulkan sanak family atau reuni. Karena memasak untuk pesta muludan butuh tenaga banyak,maka didatangkan sanak kerabat untuk rewang (membantu). Acara reuni ini lantas dijadikan momentum untuk menjodohkan anak-anak mereka. Para tetua memfasilitasi agar mereka saling kenal,tetapi tak melanggar norma agama.Karena itu,perkenalan di antara merekapun dibatasi dinding.
Gredoan ini sekaligus mencegah orang tua memaksakan jodoh anak gadisnya karena pemaksaan sering berlanjut dengan munculnya colongan atau playoaken,yaitu lelaki melarikan gadis sampai akhirnya orang tua gadis mau menikahkan.Gredoan juga sebagai koreksi atas pranata sosial tradisional lain yaitu bathokan. Bathokan adalah ketika seorang gadis membuka warung agar dapat kenal dengan pria. “kalau di bathokan itu minimal bisa pegang tangan “,kata Hasan yang semasa mudanya juga suka bathokan.Dengan demikian,gredoan dianggap sebagai media perjodohan paling baik dan bermartabat.” Diyakini pula bahwa jodoh yang didapat dari gredoan akan mendapat berkah karena diselenggarakan di bulan kelahiran Nabi,” kata Yudi,tokoh pemuda desa Tambong. “ saya yakin,mendapat jodoh dari gredoan itu berkah,lebih awet. Saya sendiri juga memperoleh isteri dari gredoan,” kata Kepala Desa Tambong,Zakharia.

Berbalik
Dalam perkembangan mutakhir,gredoan bergerak berbalik arah. Kini menjadi media atau fasilitas bertautnya lelaki-perempuan secara lebih bebas sehingga banyak warga Banyuputih yang mulai gerah.” Saya tidak ikut gredoan.Cowok suka kasar.Minta kenalan,tapi kalu ditolak marah,”kata Ida.” Keluarga saya tidak suka gredoan. Waktu gadis,saya juga tidak pernah ikut.Rasanya risi.Saya menikah dengan pacar saya saat sama-sama di SMP,’ ujar Ny.hartatik. Sosiolog Universitas Airlangga, Surabaya,Hotman M.Siahaan melihat perubahan gredoan dari ranah privat ke ranah public akibat penetrasi komersialisasi bisnis. Terlihat di gredoan ada perusahaan yang menjadi sponsor,melibatkan media massa untuk tayang jualnya. “ Yang demikian ini fenomena umum dimana komersialisme mencari celah apa saja. Pranata tradisional dibingkai dalam komersialisasinya seperti dicari uniknya” katanya.Akhirnya,lanjut Hotman,yang terancam adalah kearifan lokal yang menjiwai pranata sosial tradisional itu. Sulit terjadi proses “globalisasi” yaitu menguatnya pengaruh kearifan lokal menghadapi globalisasi karena dinding “glokalisasi” tidak cukup kuat. Untuk diikhlaskan mati seperti tradisi bathokan karena hanya memperburuk citra masyarakat using,tampaknya tidak mudah karena gredoan modern mendapat penyangga baru,yaitu kekuatan modal dan komersial. Juga pemerintah setempat yang menjadikan proyek pariwisata. Semua terpulang kepada masyarakat Using sendiri.

Ditulis Oleh : Anwar Hudijono/Aryo Wisanggeni Gentong


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page 1, 2, 3, 4, 5  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 6 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum

cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group