Grage Aeromodelling

Komunitas Aeromodelling Nusantara
It is currently 24 Mar 2019, 20:36

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
Author Message
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 19:12 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
daerah ini adalah daerah yang sering saya kunjungi.
selain karena pantainya yang bersih n banyak nus (cumi).
juga terdapat sumur/ sumber air tawar di tepi pantai

WATU DODOL: Pintu Gerbang Masuk Banyuwangi
Apabila Anda sering beperpegian ke Bali lewat darat, terutama lewat utara Jatim, yaitu kawasan Situbondo, maka saat memasuki wilayah Banyuwangi Anda akan disambut Gapura Kejut. Ada patung Gandrung (Kesenian khas Banyuwangi) di sebelah kiri. Deburan ombak dengan air laut yang benaing, serta ada onggokan batu besar di tengah jalan. Itulah yang disebut Watu Dodol.

Konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, nama “Watu Dodol” itu menceritakan asal muasal batu itu. Watu bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia Batu. Dodol, atau dalam masyarakat Using disebut Jenang. Nama jenang itu, biasanya diikuti jenis bahan bakunya. Misalnya, jenang ketan, karena terbuat dari beras ketan. Jenang Selo dan sebagainya. Nah dari sini, cerita asal usul watu dodol terlihat sekali bukan berasal dari masyrakat lokal. Apalagi pelaku cerita adalah Kyai Semar, tokoh pewayangan. Padahal warga Using (asli Banyuwangi), tidak mengenal tradisi pewayangan.

Masih melanjutkan kisah tentang watu dodol, konon Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang terjatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitar pantai watu dodol Konon alat pukulnya, kayu kelor, terlempat dan menancap di sela-sela batu di kana jalan (kalau dari Surabaya). Ini juga aneh, di celah batu tumbuh pohon kelor. Bagi masyarakat Jawa, kelor merupakan senjata pamungkas untuk menghilangkan segala pengarus mastik yang dimilki seseorang. Seperti ilmu kanoragan atau ilmu hitam, diyakini akan luntur bila bersentuhan dengan kayu kelor. Sementara bagi warga Using, merupakan bahan sayur segar yang disajikan pada siang hari. Terutama pada hari ke-2 dan setelah pada Idul Fitri. Bisa dipastikan, banyak orang Using yang memasak sayur daun kelor. Nah, aneh kan?

Watu Dodol menjadi Gapura Kejut
Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai di watu dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Masih menurut cerita tadi, konon air berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya (tapi hati-hati ya, nanti bisa syirik) katanya air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan berbagai alasan yang dipercayainya sendiri.

Terlepas dari cerita-cerita dibalik watu dodol, yang jelasan kawasan ini menawarkan keindahan alam. Kejernihan air laut, serta parorama batu karang yang bisa dilihat di Gardu Pandang di bukit sebelah kanan jalan. Bahkan seniman Banyuwangi saat itu, pernah mengabadikan kejernihan air laut watu dodol dalam bentuk lagu daerah Banyuwangi berjudul Padang Ulan: Padang Ulan ring pesisir Banyuwangi/Kinclong-kiclong segarane koyo koco/ Lanang wadon tuwek enom suko-suko// …. (Terang bulan di pantai Banyuwangi/Air lautnya berkilauan seperti kaca/Laki perempuan tua muda bersuka-suka) .

Namun sejak banyaknya orang-orang sekitar watu dodol melakukan pengambilan batu karang, maka “kiclong-kiclong” watu dodol tidak seperti yang tergambarkan dalam lagi yang populer tahun 1970-an itu. Bahkan di pantai Kampe, sebelah barat watu dodol, pantainya berlumpur. Batu karangnya habis diambil warga, untuk bahan campuran batu kapur. Padahal, menurut warga setempat, gambaran “kinclong-kinclong” itu dulu bisa dinikmati sejak kawasan Wongsorejo hingga ke Pantai Blimbingsari.

Meski kondisi sekarang tidak seideal seperti dalam lagu “Padang Ulan”, setidak kita masih bisa menikmati sisa-sisa “kiclong” laut Banyuwangi di Watudodol. Deburan ombaknya, juga bagus. Apalagi disaksikan dari Gardu Padang yang berada di bukit seberang pantai Watu Dodol. Kawasan ini, juga menjadi wisata andalam Pemkab Banyuwangi. Bisa juga dijadikan tempat istirahat, apabila wisatawan akan ke Bali atau pulang dari Bali.

Dulu saat Bupati Syamsul Hadi berkuasa, pernah merenacakan Kampung Seniman di bukit watu dodol. Bahkan, saat itu sudah diukur kampling yang akan diberikan kepada seniman dengan konpensasi yang sangat murah. Targetnya, kawasan itu akan menjadi kampung seni, seperti Ubud-lah. Mengingat, banyak pelukis dan pembuat keraninan di Bali justru berasal dari Banyuwangi.
Spoiler: show
Image


Last edited by dulbehek on 02 May 2012, 19:45, edited 1 time in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 19:15 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
kebo keboan alas malang

BANYUWANGI_Dhuta Ekspresi-Online: Meski zaman kian bergulir dan terus berusaha untuk melibas budaya-budaya lama, namun budaya warisan yang sudah turun temurun dilaksanakan rutin setiap tahun itu masih tetap bertahan dengan terus berupaya mempertahankan kemurnian dan kesakralan daripada kebudayaan itu sendiri. Adalah tradisi adat warga Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kec. Singojuruh, Upacara Ritual Kebo-keboan yang merupakan upacara sebagai wujud syukur terhadap Yang Maha Kuasa akan hasil bumi yang dihasilkan oleh warga setempat. Seperti apakah upacara ritual kebo-keboan yang digelar setiap 10 Syuro hingga pelaksanaannya mampu menyedot ribuan pengunjung?
KONON, ritual upacara adat “kebo-kebo”-an di Desa Alasmalang, Kec. Singojuruh-Banyuwangi itu diperkirakan muncul sekitar abad ke-18 Masehi. Dikisahkan, pada saat itu masyarakat Desa Alasmalang dilanda musibah brindeng atau pagebluk (wabah penyakit) yang berkepanjangan. Yakni, jenis penyakit yang snagat menakutkan dan sulit diketemukan obatnya. Karena, bagi yang terkena pagi maka sore harinya akan mati, jika malam kena, paginya akan mati, begitulah seterusnya.



Selain itu, di tengah bencana seperti itu, masyarakat Alasmalang yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani itu pun, lahan pertaniannya dilanda hama tikus yang amat besar. Akibatnya, panenan menjadi rusak dan gagal.

Akhirnya, salah satu sesepuh desa yang biasa dipanggil Mbah Buyut Karti mengajak warga untuk melakukan ruwatan atau selamatan desa agar wabah brindeng atau pagebluk serta hama yang menyerang desanya segera lenyap. Anehnya, setelah ruwatan tersebut digelar, berangsur-angsur wabah pagebluk itu mulai berkurang dan akhirnya hilang sama sekali. Begitu juga dengan hama tikus yang menyerang lahan petani.

Meski demikian, meski wabah pagebluk dan hama tikus sudah sirna, namun warga masih tak bisa tenang. Lantaran, sawahnya menjadi kering dan keras untuk dicangkuli karena kemarau yang berkepanjangan. Akhirnya, Mbah Buyut Karti menganjurkan untuk memakai kerbau dalam membajak sawahnya.

Dan upacara ritual “kebo-kebo”an adalah upacara di mana manusia dihiasi seperti kerbau. Di mana, kerbau yang diperankan manusia itu melambangkan betapa hubungan mitra antara petani dengan kerbau harus dipertahankan. Selain bertanduk, coretan hitam yang mewarnai seluruh badan orang yang dihiasi seperti kerbau itu dilambangkan sebagai simbol bahwasanya kerbau adalah salah satu binatang yang kuat dan merupakan tumpuan mata pencaharian masyarakat Alasmalang yang mayoritas sebagai petani.

Ada pun tahapan dalam upacara tersebut terbagi menjadi beberapa tahapan. Di antaranya, tujuh hari sebelum pelaksanaan, sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat. Yaitu, di Watu Loso, -sebuah batu yang berbentuk seperti tikar,- Watu Gajah, -batu yang berbentuk seperti gajah,- dan Watu Tumpeng, -batu yang berbentuk seperti tumpeng,-.

Dan yang paling dikhawatirkan adalah di Watu Loso. Karena di tempat yang merupakan tempat Mbah Buyut Karti dimakamkan, pun dalam melakukan meditasi di tempat tersebut diperlukan semacam kekuatan ekstra untuk berkomunikasi di tempat tersebut. Dan pawang yang bertugas menangani upacara ritual tersebut sebanyak 5-6 pawang yang bertugas secara bergantian setiap tahunnya. Dan para pawang itu pun harus keturunan dari Mbah Buyut Karti.

Acara puncaknya dilaksanakan setiap pada 10 Syuro. Yakni, selamatan di empat penjuru pojok desa, selamatan tumpeng di perempatan jalan di Dsn. Krajan, Alasmalang secara bersama-sama, ider bumi, dan puncaknya yaitu waktu goyangan. Dan semua tahapan itu harus merupakan kesatuan utuh yang tidak boleh ditinggalkan.

Menurut salah satu generasi ke-4 dari keturunan Mbah Buyut Karti, Drs. Subur Bahri, Msi, tujuan upacara ritual adat itu adalah untuk menolak balak (berbagai macam penyakit) sekaligus sebagai rasa terima kasih masyarakat dengan memanjatkan doa kepada Sang Maha Pencipta agar poses pertanian cepat menghasilkan hasil panen sebagaimana yang diharapkan.


[Keberadaan Tradisi Kebo-keboan Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi, tiap tahun selalu menyedot perhatian khalayak. bukan hanya masyarakat Banyuwangi sekitarnya, namun juga dari luar Banyuwangi]

Keberadaan Tradisi Kebo-keboan Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Banyuwangi, tiap tahun selalu menyedot perhatian khalayak. bukan hanya masyarakat Banyuwangi sekitarnya, namun juga dari luar Banyuwangi
Ada semacam keganjalan sebagai niat manakala tidak melaksanakannya. Hal ini pernah terbukti semasa masyarakat tidak melaksanakan, yaitu pada tahun 1970-an, ternyata ada salah satu warga dari RT 05 bernama Abdillah kesurupan. Yang intinya meminta agar upacara adat kebo-keboan dihidupkan kembali. Jadi mulai tahun 1970 itu kebo-keboan rutin dilaksanakan, tapi tidak semeriah seperti sekarang ini,” ungkap Subur kala itu.

Ketika ditanya mengapa tumpeng yang dipakai selamatan berjumlah 12? Dijelaskannya, tumpeng itu boleh lima juga boleh juga dua belas. Untuk tumpeng berjumlah lima, lanjutnya, melambangkan sebagai warga muslim harus mendirikan sholat lima waktu seperti yang dianjurkan agama. Sedangkan tumpeng berjumlah dua belas, sebagai perwujudan bahwa dalam setahun ada dua belas bulan.

“Unsur mistiknya tinggi sekali mas, saya lihat tadi ada yang kesurupan. Ternyata panitia keteledoran dalam memberikan kelengkapan upacara. Sesajinya kurang, selama ini kita tidak pernah memberikan nasi gurih. Ternyata ada semacam tamu datang, saya sempat komunikasi dengan kekuatan itu, saya tanya tamu itu dari Balung, Jember. Dan katanya yang kurang itu nasi gurih,” lanjutnya.

Untuk reinkernasi-nya, terangnya, pada saat ada program Jarah Nitra (Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional), ritual adat itu digali kembali dan dibawa ke Jakarta sebagai salah satu paket Gatra Kencana.

“Ternyata kita menyabet juara 1. Sehingga ada semacam atensi serta komitmen semua pihak termasuk pemkab yang saat itu di-pandegani oleh Pak Sahuni. Kita inventalisir kembali dan hasilnya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini,” pungkas Dekan Faks. Fisip Untag Banyuwangi itu. (tim dhuta ekspresi online)


Image


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 19:40 
Offline
Staff Sergeant
Staff Sergeant
User avatar

Joined: 11 Jan 2010, 23:45
Posts: 212
Location: SJAC
Saya sangat mengenal daerah Tapal kuda ini, kenapa di sebut Tapal kuda, karena memang rangkaian kabupaten di ujung timur jawa ini membentuk Tapal kuda, kalau di urutkan adalah : Probolinggo, situbondo, banyuwangi, bondowoso, jember dan lumajang, daerah tapal kuda ini mempunyai pantai pantai yang indah, di situbondo ada pasir putih, di banyuwani ada G land, salah satu tempat surfing terbaik di dunia, di jember ada watu ulo dan tajun papuma, selain pantai daerah tapal kuda mempunyai perkebunan perkebunan, baik karet, kakau atau pun teh......yang di deka perkebunan perkebunan tersebut pasti ada gunung gunung yang sangat menantang untuk di daki. ( bagi penggemar pendakian)...... Ada gunung raung...argopuro, ijen dan lain nya... Seperti gunung gunung di daerah probolinggo, seperti gunung lamongan dan lainnya...... Selain pantai, gunung dan perkebunan, daerah tapal kuda sangat menantang untuk penggmar Off road (penggila 4x4).... Adapun jalur yang menantang itu bisa di mulai di ambulu jember menuju bande alit.... Terus sampai memasuki sukamade, atau..... Memjelaja hutan terbasala banyuwangi terus ke arah perkebunan london sumatra terus ke arah pantai sukamade, tempat konservasi penyu blimbing......yah itulah tapal kuda....sangat lengkap, apalagi sekarang di jember ada lapangan udara... Bertambah lengkaplah di sana..........

Terima kasih.....

Mara
Medio 1978 - 1993
Kalisat - Rambipuji - jubung
Lavilla - jember Rock Section


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 02 May 2012, 19:44 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
terima kasih pak mari diramaikan saya akan nge feed budaya dan wisata di banyuwangi
karena saya cuma ngertinya tanah kelahiran saya itu.
selain itu saya merasa bahwa jember, lumajang , situbondo dan bondowoso telah kehilangan jati diri budayanya. sehingga saya bingung budaya apa yang musti diangkat.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 03 May 2012, 00:01 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
ini adalah lagu banyuwangi
dengan tema objek2 wisata di banyuwangi


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 03 May 2012, 08:18 
Offline
Chief Master Sergeant
Chief Master Sergeant
User avatar

Joined: 18 May 2010, 14:28
Posts: 829
Location: Bogor
:tlt

:plk


:thx


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 03 May 2012, 13:04 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
:deal :deal :deal
ayo om dateng ke banyuwangi.
ceweknya cantik2
seni nya bagus2
dan wisatanya ga kalah ma bali


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 03 May 2012, 13:34 
Offline
Chief Master Sergeant
Chief Master Sergeant
User avatar

Joined: 04 Nov 2011, 08:56
Posts: 863
Location: JAKARTA
dokumen nya manteb... :plk :plk
museum budaya indonesia emang :ok


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 05 May 2012, 02:20 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
next mari kita bahas wisata2 n jajanan di banyuwangi
n tidak menutup kemungkinan menjalar ke tapalkuda


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 09 May 2012, 17:17 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
Taman nasional ini begitu sering saya kunjungi selain karena anggapan masyarakat sekitar akan usur magis nya dan keindahan alam nya.
beberapa kali saya kesana terkesima dengan pasir putihnya dan keneahan sumber air tawar yang berasal dari pinggir laun dan mengalir kearah darat atau tengah hutan
sayang nya foto2 dan dokumentasi ikut raib bersama rusak nya hp saya


Image
Objek Wisata Alam taman nasional alas purwo



Pantai Pancur

Pantai Pancur masuk dalam Sub Seksi Pancur, Seksi Konservasi Wilayah I Rowobendo, Taman Nasional Alas Purwo. Pantai Ini berjarak sekitar ±15 Km dari Desa Pasaranyar atau 5 Km dari pintu masuk Taman Nasional Alas Purwo yang merupakan Pos Pengawasan Rowobendo dan 3 Km dari Pantai Trianggulasi. Pantai ini bisa ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari desa terdekat. Keadaan jalan menuju pantai ini berbatu dengan pemandangan disebelah kanan-kiri pepohonan jati yang dikelola oleh pihak Perhutani. Ciri khas dari pantai ini adalah adanya aliran sungai yang mengalir setiap tahun dari tempat yang agak terjal sehingga membentuk pancuran, sebutan pancuran inilah yang kemudian diambil sebagai nama Pantai Pancur.

Kegiatan yang dapat dilakukan di pantai ini antara lain adalah : bersantai menikmati panorama, berkemah, dan memancing. Perkembangan pantai ini dapat dilihat dari didirikannya beberapa fasilitas, antara lain adalah : kantin, fasilitas sanitasi (toilet), camping ground, area parkir, musholla dan pendopo.

Pantai Pancur juga merupakan pintu masuk menuju kawasan Plengkung Surf Beach melalui jalur darat. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai gambaran wisata Pantai Pancur yang dirangkum dalal tabel 4.3.

Pantai Triangulasi

Pantai Triangulasi di ambil dari nama tugu Trianggulasi yaitu tugu yang dinyatakan sebagai titik ikat pada peta untuk menentukan resurection atau panduan arah peta dalam menentukkan perjalanan. Pantai ini dapat ditempuh dengan jarak 3 Km dari pantai Pancur atau 2 Km dari Pos Rowobendo dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dalam tabel 4.4 berikut ini akan dipaparkan gambaran mengenai Pantai Trianggulasi.





Pantai Plengkung

Pantai ini berjarak sekitar 13 Km dari Pantai Pancur dan dapat ditempuh melalui du jalur alternatif, yaitu jalur darat dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan khusus yang telah disediakan. Kemudian jalur kedua adalah dengan menggunakan speed boat dari pantai Grajagan atau Pantai Trianggulasi. Pantai ini menawarkan ombak yang besar sehingga sering dimanfaatkan oleh para wisatawan asing untuk surfing. Pantai yang sering disebut dengan G-Land ini sering dikunjungi Wisatawan asing yang datang dari Bali. Mereka biasanya menggunakan jasa Travel Agent.

Situs Candi

Situs Candi terletak pada areal pos konservasi Rowobendo, sekitar 150 meter dari Pura Luhur Giri Saloka Alas Purwo. Lokasi situs ini bisa dicapai dengan kendaraan roda dua atau roda empat dengan menempuh jarak sekitar 1 km dari pitu masuk Pos Rowobendo. Kondisi flora daerah ini disominasi oleh pohon jati dan semak, sedangkan keadaan fauna yang dapat ditemui antara lain adalah Kera, Burung Merak, Kancil, dan Babi Hutan.
Atraksi Pendukung Ekowisata



Atraksi pendukung ekowisata erat hubungannya dengan sosial budaya masyarakat berupa kegiatan yang dilakukan di sekitar objek wisata yaitu memancing dan mencari kerang. Sedangkan bertanam dan berkebun bisa dilakukan di lahan hutan produksi yang memang berupa perkebunan dan areal pertanian atau bisa juga dilakukan di sekitar lokasi milik masayarakat di pedesaan sekitar kawasan. Dengan mengikuti kebudayaan sehari-hari yang dilakukan masyarakat pedesaan akan memberikan suasana asli pedesaan, seperti halnya mengikuti Upacara Tandur, Panen/Buritan, atau setidaknya memetik hasil kebun. Atraksi pendukung ekowisata semacam itu dapat dijumpai di beberapa wilayah sekitar Taman Nasional Alas Purwo, antara lain adalah :

1. Areal Pertanian Rakyat

Wilayah pertanian ini berada di sepanjang jalan menuju Taman Nasional Alas Puro tepatnya di Desa Kalipahit Dusun Kutorejo. Hasil pertanian di wilayah ini antara lain adalah Padi, Kedelai dan Palawija serta buah-buahan seperti melon, semangka, dan jeruk.




2. Perkebunan Wilayah Hutan Produksi

Wilayah hutan memproduksi hasil kebun berupa Palawija, Jagung, Labu, Umbi-umbian, dan Sayurran serta kacang-kacangan. Banyak masyarakat sekitar Taman Nasional Alas Purwo yang bertananm di wilayah pemanfaatan hutan produksi dengan cara bagi hasil, sewa maupun bagi kerja. Bagi kerja yang dimaksud adalah para penanam harus memelihara bibit persemaian yang akan ditanam di hutan produksi, bibit itu berupa bibit Jati, Mahoni, Sono Keling, dan Kendal yang nantinya akan ditanam pada areal hutan produks kayu.
Ekowisata

Sadengan

Sadengan berada di bawah wilayah pengawasan Pos Rowobendo dan dapat ditempuh selama sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Objek wisata ini hanya berjarak masing – masing 3 Km dari Pos Rowobendo dan Pantai Trianggulasi.

Sadengan adalah padang penggembalaan seluas lebih kurang 84 hektar. Teridir dari savanna rumput lamuran yang sangat disukai binatang herbivora pemakan rumput. Sadengan memiliki fasilitas pondok peneliti untuk tempat menginap, gardu pandang untuk mengamati binatang dan tempat parkir yang letaknya dibuat agar tidak mengganggu binatang di padang penggembalaan. Pengamatan dapat dilakukan sepanjang hari, namun pengamatan terbaik adalah antara pukul 06.00 – 09.00 dan 15.00 – 18.00.

Ngagelan

Objek wisata lain yang dapat dikategorikan sebagai objek wisata ekowisata adalah Ngagelan. Tempat ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki dengan jarak sekitar 8 Km dari Pos Rowobendo. Ngagelan adalah sebuah tempat penangkaran penyu yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo. Beberpa jenis penyu yang ditangkarkan di Ngagelan adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik dan Penyu Belimbing. Ngagelan memiliki 4 buah kolam penangkaran Tukik atau bayi penyu. Pada bulan Agustus sampai Oktober adalah waktu terbaik untuk mengunjungi tempat ini, karena pada bulan tersebut adalah waktu dimana penyu naik ke daratan untuk berelur, sehingga wisatawan dapat ikut serta untuk mengikuti aktifitas susur pantai pada malam hari untuk melihat penyu naik ke daratan. Ngagelan juga menyediakan sebuah wisma untuk menginap para wisatawan. Berikut akan digambarkan mengenai objek wisata Ngagelan yang dirangkum dalam tabel 4.8.

Mbedul dan Cungur
Mbedul dan Cungur adalah bagian dari Taman Nasional Alas Purwo yang masuk dalam kawasan kecamatan purwoharjo. Tempat ini dapat dituju melalui dua jalur, yaitu melalui jalur darat dari Pos Rowobendo dengan jarak sekitar 19 Km atau dari Ngagelan dengan jarak sekitar 11 Km dan dapat ditempuh dengan mengunakan kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki. Kemudian melalui jalur laut dengan menggunkan perahu slerek dari Dusun Ban Kandel Desa Tegalsari Kecamatan Purwoharjo. Mbedul biasanya digunakan oleh para pelajar sebagai tempat berkemah karena memiliki jalur trekking di tengah hutan dengan jarak tidak terlalu jauh dan terdapat pantai di akhir jalur dimana pantai tersebut langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Kemudian Cungur adalah tempat pengamatan burung-burung migran dari Australia. Beberapa spesies burung mendiami wilayah ini pada bulan-bulan tertentu.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 4 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum

Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group