Grage Aeromodelling

Komunitas Aeromodelling Nusantara
It is currently 20 Feb 2019, 20:02

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
Author Message
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 11 May 2012, 14:47 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
:ha3 :ha3 :ha3
sabaar suhu


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 17 May 2012, 19:52 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
rowo bayu . saya pernah kesana 1 kali kesan pertama adalah tenang dan damai.
yah ini adalah rowo (daau) saksi bisu kehancuran orang2 blambangan dan saksi bisu pembunuhan masal dan penghapusan ras.
yang di lakukan oleh kerajaan mataram islam, dan belanda beserta antek anteknya
yang berlatar belakang ketamakan dan agama. hingga sekarang sisa sisa pergulatan jaman itu masih tersisa menjadi kebhinekaan dalam berkeyakinan dan berbudaya.
walau sisa sisa itu juga meninggalkan kebencian yang mendalam
Image
Rowo Bayu

Medan berat yang kami tempuh saat menuju wisata air terjun Lider membuat kami sedikit kapok untuk kembali menempuh rute yang sama, apalagi cuaca saat itu sedang hujan lebat disertai petir. Melewati jalan berbatu penuh dengan tanah liat yang basah adalah sebuah tindakan yang sedikit nekat kurasa. Akhirnya kami putuskan untuk menempuh rute lain dengan menuju kecamatan Songgon. Melewati luasnya perkebunan cengkeh dan tebu akhirnya kami sampai di rumah kawan lama di desa Sragi saat hari menjelang petang dan bersyukur Ia mengizinkan kami untuk menginap di kediamannya.

Tak terasa malam berjalan dengan cepatnya dan setelah berpamitan kami pun melanjutkan perjalanan menuju wisata sejarah Rowo Bayu yang merupakan Petilasan Prabu Tawang Alun, salah satu Raja Blambangan yang terkenal karena perang puputan bayu pada tanggal 18 Desember 1771 yang selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Rowo dalam bahasa Indonesia berarti “Rawa” sedangkan Bayu itu sendiri diambil dari nama desa “Bayu”, Rowo Bayu (Rawa di desa Bayu) begitulah penduduk sekitar menyebut kawasan yang dianggap sakral ini. Rawa sering diidentikkan sebagai tempat yang tidak menyenangkan dengan air yang kotor berlumut dan banyak binatang buas semacam buaya atau biawak, namun untuk rawa yang satu ini “Rowo Bayu” sepertinya ada semacam pengecualian. Sumber mata air yang jernih dan nampak asri karena dikelilingi pepohonan nan rimbun adalah gambaran awal yang kami tangkap saat kami melihat kawasan ini. Belum lagi bangunan Candi Agung “Macan Putih” dan Petilasan Prabu Tawang Alun yang berdiri kokoh di atas bukit semakin menambah nuansa sejarah nya. Salah satu juru kunci Rowo Bayu menjelaskan kepada kami bahwa Prabu Tawang Alun pernah melakukan pertapaan di bawah sumber air suci “Kamulyan” hingga mendapatkan petunjuk untuk menaiki macan putih dan mengikuti perjalanan ke hutan sudhimoro seluas 4 km2 yang selanjutnya oleh beliau dijadikan keraton “Macan Putih”.

Kami semakin hanyut dalam cerita sejarah Blambangan manakala seorang budayawan yang juga seorang dokter spesialis radiologi dari Bali Bapak Pageh Badunggawa mempresentasikan hubungan Raja Jawa sampai Raja Blambangan melalui sebuah bagan silsilah raja-raja dalam kertas karton besar. Pengunjung yang sebelumnya hanya melihat dari kejauhan, akhirnya tertarik untuk ikut dalam perbincangan kami sampai diadakanlah sesi tanya jawab antara pengunjung dan Bapak Pageh Badunggawa dengan topik bahasan “Sejarah Blambangan” selama kurang lebih 1 (satu) jam lamanya dan sebagai tanda perpisahan, sebuah buku “Babad Tanah Blambangan” IKAKI Blambangan menjadi bonus untuk kami.

sumber http://blambangan.web.id/artikel-berita ... desa-bayu/


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 19 Jul 2012, 14:16 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
Image
disinilah tempat paling menggetarkan yang pernah diceritakan oleh orang tua saya
dimana puspa2 bangsa mempertahan kan negri ini bukan cuma dengan keringat dan darah tapi dengan mengorbankan nyawa.
tempat dimana hukum Perang tidak dipatuhi,

Sejengkal Pantai Banyuwangi Dipertahankan dengan Darah dan Nyawa oleh Pasukan ALRI 0032
Posted on 14 September 2011


Oleh : Peltu Purn. Badrus Sjahlana

Dalam rangka memperingati hari ARMADA RI dan hari DHARMA SAMUDRA sekarang ini, patutlah kita bangsa lndoensia umumnya dan warga TNI AL, khususnya berbangga hati melihat kelrampilan dan kemampuan Armada RI yang semakin mantap untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan negara kita di laut. Peralatan TNI AL semakin canggih, lengkap dan mutakhir. Baik yang di bawah air, di atas air, di darat maupun di udara. Lebih-lebih lagi kesemuanya itu diawali oleh personil yang terlatih, yang memiliki semangat juang dan profesionalisme. Dengan demikian kita semakin yakin bahwa TNI AL yang kecil tetapi efektif akan dapat menangkal setiap ancaman dan gangguan dari manapun dalangnya, baik dari dalam maupun dari luarnegeri. Bendera JALESVEVA JAYAMAHE sekarang sudah berdiri tegak dan selalu berkibar di seluruh Persada Nusantara tercinta ini dengan anggunnya.

Namun perlu kita sadari bahwa kemampuan dan kesiapan tempur yang tinggi bagi TNI AL ini tidaklah dapat terwujud dengan secara tiba-tiba seperti Aladin dengan lampu wasiatnya, melainkan melalui perjuangan, panjang yang sangat berat penuh dengan halang rintang serta penuh dengan pengorbanan baik harta maupun jiwa.

Sebagai salah satu contoh, marilah kita simak kilasan sejarah perjuangan heroik yang patrioti Pasukan ALRI 0032 yang telah rela kulit dan dagingnya robek, darahnya lumpah bahkan nyawanya melayang demi mempertahankan sejengkal pantai pelabuhan Banyuwangi.

Mungkin banyak diantara pembaca yang belum mengenal Pasukan ALRI 0032. Pasukan ALRI 0032 ini sebagian anggotanya berasal dari pelajar di Kaigun Kokusyo Morokrembangan Surabaya (Penerbangan Angkatan Laut pada zaman pendudukan Jcpang di Indonesia) yang setelah lulus pendidikan ditempatkan di penerbangan Angkatan laut di Lawang (Malang). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, di mana saat itu terjadi perebutan dan peralihan kekuasaan dari Jepang ke RI, maka para anggota Penerbangan Angkatan Laut baik yang dari Lawang maupun yang dari Morokrcmbangan Surabaya menggabungkan diri ke dalam Badan perjuangan Pemuda Penerbangan Angkatan Laut di bawah pimpinan Letnan Suwarlan.

Pada bulan April 1946 mereka ini diperitahkan oleh Markas Besar Angkalan Laut di Lawang untuk berangkat ke Jogja guna mengikuti LPTKP (Latihan Polisi Tentara Kementrian Pertahanan) di Markas kementrian Pertahanan RI di Gondokusuman no. 2 Jogjakarta. Selesai mengikuti pendidikan LPTKP selama ±4 bulan, mereka dikembalikan ke Jawa Timur dengan nama pasukan 0032 TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia) di bawah pimpinan Letnan Suharto yang markasnya berada di Batu (Malang). Selama di Batu mereka ditugasi menjaga gudang perlengkapan yang tempatnya di atas pasar lama dekal sanatorium, menjaga tempat tawanan Indo Belanda yang masih gadis di Songgoriti dan juga juga tempat tawanan politik kaki tangan Tan malaka di Batu.

Pada bulan September 1946 sebagian dari Pasukan ALRI 0032 ini, yaitu yang dari Seksi 3 dibawah pimpinan Letnan Misman diberangkatkan ke Pangkalan X Banyuwangi dengan tugas utama untuk mempertahankan Pelabuhan Banyuwangi dari ancaman pendaratan agresor Belanda. Selama di Banyuwangi oleh Komandan Pangkalan-X Letkol Abdul Halik. Seksi-3 Pasukan ALRI 0032 ini ditampung di asrama SR Maudi Putri sebelah utara lapangan banyuwangi (sekarang SDN Kepatihan), yang kemudian ditempatkan di asrama Angkalan Laut di dalam komplek pelabuhan Banyuwangi. Tiada berapa lama kemudian Komandan Pangkalan-X Banyuwangi discrah terimakan dari Lelkol Abdul Halik kepada Letkol Tamboto.

Pada bulan April 1947 seksi 3 Pasukan ALRI 0032 ini diganti dengan Seksi-I Pasukan ALRI 0032 di bawah pimpinan Letnan Suleman, yaitu susunan seksinya adalah sebagai berikut:
Komandan Seksi-I : Letnan Suleman
Komandan Regu-I : Serma Aspangkat
Komandan Rcgu-2 : Serma Pudjiardjo
Komandan Regu-3 : Serma Wasito
Komandan Regu-4 : Serma Tppin Sugeng
Bintara Staf : Serma Y. Basri
Wakil Komandan Regu-I : Sersan Ahmad Adji
Wakil Komandan Regu-2 : Sersan Supermak
Wakil Komandan Regu-3 : Sersan Sirus
Wakil Komandan Regu-4 : Sersan Sutipto
dan 44 orang anggota Pasukan ALRI 0032.

Seksi-I Pasukan ALRI 0032 inipun sama halnya dengan seksi-3 dengan tugas pokok mempertahankan Pelabuhan Banyuwnagi bersama anggota dari Pangkalan-X Banyuwangi.

Tanda-tanda Pasukan Belanda akan mengadakan pendaratan di pantai Banyuwangi sudah dapat diduga sebelumhya, karena pada bulan Juli 1947 terutama malam hari sering terlihat adanya perahu layar yang mendekati pantai Banyuwangi, baik di dekat Watudodol, Ketapang, Sekowidi, maupun Banyuwangi. Setelah dilepaskan tembakan segera menurunkan layar dan berganti menghidupkan mesin terus lari menghilang. Hal ini memungkinkan karena waktu itu pulau Bali sudah diduduki Belanda.

Menyadari bahwa Belanda akan mengadakan pendaratan di Banyuwangi, maka pasukan kita telah mengantisipasinya dengan membentuk kantong-kantong pertahanan dan perlawanan di tepi pantai Banyuwangi seperti di Watudodol, Meneng, Ketapang, Sukowidi, Banyuwangi dan sebagainya.

Ketika pasukan Belanda mengadakan aksi polisionil pertama tanggal21 Juli 1947 menjelang matahari terbit , pasukan ALRI 0032 dikejutkan oleh suara tembakan dan pelabuhan Banyuwangi dihujani peluru meriam dari kapal perang Belanda, demikian juga pantai lain seperti Watudodol, Meneng dan Kelapang dijadikan sasaran tembakan oleh kapal-kapal perang Belanda.

Setelah mengetahui bahwa peralatan musuh jauh lebih Icngkap dan modern, serta tidak mungkin dibendung dengan persenjataan yang kita miliki, maka pos-pos pertahanan yang berada di sebelah utara pelabuhan Banyuwangi seperti Gunung Romuk, Watudodol, Meneng, Kelapang dan Sukowidi mengundurkan diri masuk kepedalaman untuk meneruskan perlawanan dengan perang gerilya. Demikian juga Pasukan ALRI 0032 maupun yang dari Pangkalan-X yang bertugas mempertahankan pelabuhan Banyuwangi mendapat perintah dari MB ALRI di Lawang untuk segera mengundurkan diri. Namun perintah untuk menarik diri dari pelabuhan Banyuwangi ini dijawab dengan lantang dan berani oleh Letnan Suleman selaku Komandan seksi : “Tidak, pantai ini akan saya pertahankan sampai tetes darah yang terakhir. Lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus dijajah”. Dan kenyataannya memang benar, tekad dan semangat juang yang heroik patriotik ini telah dibuktikan oleh segenap anggota ALRI yang ada di pclabuhan Banyuwangi, khususnya olch Pasukan ALRI 0032. Masih tanggal 21 Juli 1947 sekira pukul 15.00 ketika pasukan kita siapsiap menanti pendaratan pasukan Belanda di depan pelabuhan Banyuwangi, secara tiba-tiba dan mengejutkan di berondong senapan emsin mitraliur dan mortir dari belakang dari arah kota Banyuwangi Semula tembakan-tembakan dari belakang ini diduga salah pengertian. Menurut perkiraan pasukan ALRI 0032, jangan- jangan TRI yang ada di asrama Inggrisan (dalam kota Banyuwangi) mengira Belanda telah mendarat di Pelabuhan, sehingga kita pasukan ALRI 0032 ditembaki dari belakang dikira pasukan belanda. karena itu Komandan Regu-2 Serma Pudjiardjo langsung naik ke atas tempat perlindungan memegang bendera kecil merah-putih dikedua tangannya sambil berteriak: “Jangan tembak bung, lambaikan bendera merah putih. Namun apa yang terjadi selanjutnya. Tembakan bukan berhenti malam semakin gencar: Melihat kenyataan ini Letnan menelpon ke pasukan ALRI yang ada di Sukowidi ± 3 km sebelah utara pelabuhan Banyuwangi, ternyata yang menerima telpon justru pasukan Belanda. Seterusnya Letnan Suleman menghubungi TRI yang ada di asrama Inggrisan, asrama inipun sudah dikosongkan. Mereka telah mengundurkan diri kepedalaman tanpa memberi tahu pasukan ALRI 0032 yang berada di pelabuhan Banyuwangi.

Setelah para penembak dari arah belakang menyeberangi jembatan pelabuhan, tampak jelas bahwa mereka bukan TRI, tapi pasukan KNIL Belanda yang mengenakan pakaian macan loreng. Menghadapi keadaan yang sangat gawat dan mencekam ini, karena dari arah depan pelabuhan ditembaki oleh kapal perang Bel anda, dari belakang diberondong senapan mesin metraliur dan mortir, sedang dari udara dihujani bom oleh pesawat Belanda, tiada pilihan lain bagi pasukan ALRI 0032 harus bercibaku untuk melawannya dengan semangat banteng Ketaton. Komandan Seksi Letnan Suleman berteriak memerintahkan Serma Ahmad Adji menembakkan Pom-pom dan kepada Sersan Sirus untuk menembakkan metraliur serta anggota yang lain segera membalas melepaskan tembakan ke arah pasukan KNIL Belanda untuk membendung gerak maju pasukan musuh. Sejak saat itu pertempuran mencapai klimaksnya, karena jarak antara kedua pasukan sudah sangat dekat tidak lebih dari 150 meter. Di kedua belah pihak saling berjatuhan tertembus peluru. Pertempuran mengadu nyawa ini berlangsung sekitar satu jam; sampai akhirnya tidak sebutir pelurupun dimiliki oleh anggota pasukan ALRI 0032. Setelah kehabisan peluru ini, Letnan Suleman memerintahkan anggotanya menyeberangi sungai sebelah selatan pelabuhan. Perlu pembaca ketahui bahwa pelabuhan Banyuwangi ini merupakan delta atau semacam pulau kecil didepan muara sungai yang dikelilingi laut. Namun karena sore hari itu laut sedang pasang, pasukan ALRI 0032 mengalami kesulitan karena muara sungai menjadi dalam. Akibatnya pasukan Belanda dengan mudah nya memberondngkan senjatanya ke arah pasukan ALRI 0032. Tidak sedikit pasukan kita yang hati dan jantungnya tertembus peluru. Muara sungai seketika menjadi merah akibat darah. Sedang lainnya yang lolos dari maut, yaitu 21 orang dari pasukan ALRI 0032 dan seorang dari Polisi Tentara Laut Pangkalan-X tertangkap hidup-hidup. Tanpa mengenal peri kemanusiaan pasukan KNIL Belanda yang kebanyakan pribumi itu mulai melakukan penghinaan dan penganiayaan. Rupanya lupa bahwa mereka itu dilahirkan di bumi kandungan Ibu Pertiwi. Kekejamannya maupun kesadisannya jauh melebihi tuannya. Bayangkan pasukan ALRI 0032 yang tertangkap masih berlumuran darah dipakskan harus melepas pakaiannya sehingga telanjang bulat. Lalu dibariskan dalam keadaan telanjang dipimpin oleh Letnan Suleman. Selanjutnya digiring menuju pos penjagaan sebelah utara asrama pasukan ALRI 0032 di dalam komplek pelabuhan. Di tempat inilah setelah didesak dengan pertanyaanpertanyaan diiringi dengan pukulan dan tendangan membuat semakin parah luka-Iuka yang ada pada anggota pasukan ALRI 0032. Walaupun demikian mereka tetap bungkam seribu bahasa tanpa sepatah katapun menjawab pertanyaan yang diajukan. Hal ini menambah semakin sadis dan buas para anggota KNIL yang mengintrograsi pasukan kita. Bahkan Letnan Suleman dan Serma Y. Basri disuruh makan uang ORI dan surat kabar Merdeka. Setalah mereka merasa puas menghina dan menyiksa para patriot bangsa kita, maka sekira pukul 18.30 semua pasukan yang tertangkap ini walaupun terluka parah dan sulit untuk bias berjalan, tetap dipaksakan digiring ketepi laut di sebelah selatan asrama. Di tempat ini terdapat lubang perlindungan tempat senjata pom-pom yang baru tadi pagi digali oleh anggota pasukan ALRI 0032. Dan di tempat ini pula anggota Pasukan ALRI 0032 akan dihabisi dengan cara akan ditembak. Namun sebelum hukuman dijatuhkan, Letnan Suleman sempat protes minta supaya:

1. Diperlakukan sebagai tawanan perang sesuai dengan hukum Internasional.
2. Diberi kesempatan untuk menaikkan Sang Saka Merah Putih.
3. Menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya.
4. Memekikkan “Merdeka” tiga kali.

Ke empat permintaan ini tidak digubris, tapi malah diperintahkan tangan ditaruh di belakang badan kemudian diikat dengan tampar bekas tali kelambu asrama.

Cara mengikatnyapun tidak satu persatu tapi digandeng-gandeng satu dengan l ainnya memanjang dan disuruh duduk melingkar membentuk tapal kuda. mendapat perlakuan biadab ini sekali lagi Letnan Suleman protes, namun prates Letnan Suleman ini tidak dijawab dengan kata, melainkan dijawab dengan serentotan Tembakan Ston-gun yang dilepas dari arah belakang oleh pasukan Belanda melalui KNIL cecunguknya. Dengan demikian bertambahkah putra-putra terbaik Ibu Pertiwi berguguran keharibaannya. Dipangkuan Ibu Pertiwi inilah para kusuma bangsa pasukan ALRI 0032 menyerahkan darah dan nyawanya mengawal dan mempertahankan pesisir pantai Banyuwangi demi tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di cintainya. Memang benar mati hidupnya seseorang itu Tuhan Yang Maha Esa lah yang menentukan. Terbukti dari 22 orang yang dijatuhi hukuman tembak ini tidak semuanya gugur. Walaupun para kusuma negara ini sudah berlumuran darah penuh luka di badan belum semuanya menemui ajalnya. Masih ada 6 orang yang lolos dari pembantaian penghianat negara ini. Beliau-beliau inilah sebagai saksi dan pelaku sejarah yang perlu diacungi jempol karena dengan gagah berani merelakan tubuhnya ditembusi peluru demi tegak dan berkibarnya bendera Jalesveva Jayamahe di Persada Nusantara tercinta ini.

Kadar perjuangan yang tiada ternilai harganya ini oleh masyarakat setempat telah dibadikannya dengan jalan membangun makam di lempat gugurya para pejuang bahari itu berbentuk kapal laut dengan tugu kecil sebagai monumentnya.

Pada tahun 1950 Presiden pertama RI Bung Kamo telah menyempatkan diri’ untuk berziarah ke makam Pasukan ALRI 0032 ini dan beliau berkenan pula membubuhkan prasasti dengan tulisan tangan beliau sendiri berbunyi : “Hormatku Padamu Pahlawan” serta beliau tanda tangani dibawahnya. Rupanya Bung Karno ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa sebagai pemimpin perlu mewujudkan satunya kata dengan perbuatan . Sebab apa yang pernah beliau kata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang memghormati para pahLawannya” telah beliau buktikan dengan mendatangi dan memberi tulisan tangan sebagai prasasti, sebagai hormat beliau kepada para pahlawannya.

Kini pasukan ALRI 0032 sudah tiada. Yang tampak hanya bangunan tua hasil swadaya murni masyarakat. Namun semangat juang dan jiwa patriotismenya masih tetap abadi sebagai warisan nilai-nilai luhur Angkatan 45.

Sebagai penutup ingin penulis teruskan himbauan pengurus BKP Al Banyuwangi agar diantara pembaca dan yang berkenan memugar TMP Pasukan ALRI 0032 ini, sebagai :

1. Penghormatan, penghargaan dan rasa terima kasih kepada para pahlawan pendahulu kita.

2. Pewarisan nilai-nilai luhur angkatan 45 kepada generasi penerus bahwa di makam ini pernah terukir sejarah perjuangan bangsa dimana para prajurit TNI AL dengan gagah berani menan tang maut demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Pendorong/penanaman jiwa dan semangat cinta tanah air kepada generasi penerus dalam menerima pelimpahan tugas- tugas dan tanggungjawab penerusan nilai-nilai TNI AL dalam perjuangan nasional untuk mencapai tujuan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semoga
Materi di atas dinukil dari Majalah Gema Blambangan, edisi khusus (076-077), 1997. Koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

sumber
http://jawatimuran.wordpress.com/2011/0 ... alri-0032/


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 19 Jul 2012, 16:01 
Offline
Technical Sergeant
Technical Sergeant
User avatar

Joined: 08 Mar 2012, 12:10
Posts: 363
Location: Bogor
Mantaaabps....I likes This !!! :plk :plk :plk


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 19 Jul 2012, 17:45 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
Image

jika mengingat klenteng ini maka tidak akan lepas dari atraksi naga2an dan barongsai.
selain itu lampion dan lilin2 besar menghiasi klenteng ini.
diwaktu saya kecil kerap saya berkunjung untuk sekedar melihat keindahan kembang api yang disajikan setiap tahun baru cina

KLENTENG HOO TONG BIO
Banyuwangi, - Puluhan lampion berwarna merah tertata meriah di atap altar Klenteng Ho Tong Bio. Seluruh peralatan sembayang dan patung-patung leluhur telah dibersihkan hingga mengkilap.

Mempercantik klenteng menjadi salah satu kegiatan dalam mempersiapkan Hari Raya Imlek yang diperingati Kamis, (3/2) mendatang. Klenteng seluas hampir satu hektare ini, mulai Rabu malam (2/2), akan dipadati ribuan umat Tionghoa untuk bersembahyang.

Klenteng yang terletak di kawasan Pecinan, Kelurahan Karangrejo, atau 5 menit dari kota Banyuwangi ini, dibangun tahun 1784. Orang-orang Tionghoa mendirikan klenteng ini untuk dipersembahkan bagi leluhur mereka: Kongco Tan Hu Cin Jin.

Biokong Klenteng, Sutrisno, menceritakan, Kongco Tan Hu Cin Jin dipercaya sebagai leluhur mereka yang melindungi orang-orang Tionghoa yang bermukim di Blambangan (nama sebelum Banyuwangi) di masa lalu. Karena itu, klenteng ini dinamakan Ho Tong Bio, yang artinya 'Kuil Perlindungan Chinesse'.

Kuil ini juga bisa disebut 'ibu' dari 8 klenteng Tan Hu Cin Jin yang tersebar di Jawa Timur hingga Bali. Diantaranya di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng. "Klenteng ini yang terbesar sekaligus tertua," cerita Sutrisno atau Li Sin Wed, 74 tahun, yang sudah enam tahun mengabdi untuk klenteng.

Dalam penelitian Claudine Salmon dan Myra Sidharta (2000), diceritakan, bahwa Kongco adalah juragan perahu yang berlayar dari Batavia ke Bali. Namun sebelum sampai Bali, perahunya tenggelam di perairan Blambangan sekitar tahun 1729. Kongco yang memiliki ketrampilan arsitektur diminta untuk membangun istana Kerajaan Blambangan di Macan Putih.

Terkesan dengan keindahan karya Kongco, Raja Mengwi kemudian memanggil Tan Hu Cin Jin untuk membangunkan istana seperti Macan Putih. Istana Mengwi itu masih berdiri sampai sekarang dan dikenal dengan nama Taman Ayun di Tabanan, Bali.

Legenda yang masih hidup di masyarakat Tionghoa saat ini, adalah ketika Kongco menyelamatkan budak-budak Tionghoa yang akan dibawa VOC Belanda ke Batavia menggunakan kapal. Kongco juga dipercaya sebagai seorang tabib yang ramuannya manjur menyembuhkan segala penyakit. Dari jasanya ini, komunitas Tionghoa di Blambangan memutuskan mendirikan rumah penghormatan bagi Tan Hu Cin Jin.

Awalnya rumah penghormatan didirikan di Lateng, Kecamatan Rogojampi, atau sekitar 15 kilometer dari kota Banyuwangi. Namun setelah VOC menguasai Blambangan, rumah penghormatan Kongco ini dipindahkan ke tempat dimana klenteng Ho Tong Bio berdiri saat ini.

Klenteng pemujaan Tan Hu Cin Jin berdiri di 8 daerah lainnya di Jawa Timur dan Bali pada abad-abad berikutnya. Pendirian ini tidak lain karena penyebaran orang-orang Tionghoa yang dulunya bermukim di Blambangan. "Kongco Tan Hu Cin Jin adalah dewa lokal yang tidak ada di negara-negara lain," ujar biokong klenteng, Sutrisno

Klenteng-klenteng cabang tersebut selalu hadir memeriahkan ulang tahun Klenteng ibu mereka, yang diperingati setiap 14 Maret.



IKA NINGTYAS
Sumber: tempointeraktif.com


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 19 Jul 2012, 18:24 
Offline
Senior Master Sergeant
Senior Master Sergeant
User avatar

Joined: 04 Jul 2012, 14:45
Posts: 631
Location: Bunderan HI Jakarta
:tlt wah, rupanya Banyuwangi tu luas ya.. apa karena saya masih kecil ? waktu itu saya pernah tinggal di Banyuwangi.. tinggal di Jl. Dr Sutomo.. klu nggak salah no 72.. rumah dinas.. nggak tau sekarang.. he.. he.. he.. paling seneng klu di ajak jemput ke ketapang lalu ikut kapal ke Gilimanuk, balik lagi.. he.. he.. he.. namanya juga anak kecil.. :wek


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 19 Jul 2012, 18:59 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
:thx :thx
saya juga sering kesana.
ketapang buat liat kapal
kadang2 ke MENENG buat liat kapal gede2
sayang sekarang ke MENENG udah ga boleh gara2 banyak pencuri mengaku pemancing


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 09:05 
Offline
Senior Master Sergeant
Senior Master Sergeant
User avatar

Joined: 04 Jul 2012, 14:45
Posts: 631
Location: Bunderan HI Jakarta
dulbehek wrote:
:thx :thx
saya juga sering kesana.
ketapang buat liat kapal
kadang2 ke MENENG buat liat kapal gede2
sayang sekarang ke MENENG udah ga boleh gara2 banyak pencuri mengaku pemancing

Emang susah cari orang jujur dan bisa di percaya..
Pelabuhan MENENG dulu kapalnya jenis ALCM (klu nggak salah) yg pintunya buka ke depan..
biasa di pake tentara untuk turunin prajurit dan tank juga bisa ikut..
kapal itu di pake buat bawa truk ke Bali.. aku jarang main kesana.. takut ma sopir-sopir disana.. nanti di culik..
ha.. ha.. ha..


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 12:54 
Offline
Senior Master Sergeant
Senior Master Sergeant
User avatar

Joined: 31 Dec 2009, 11:35
Posts: 723
Location: Ambon&Bandung
Mantap Om Dul............. Saluutt.... :plk


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 15:34 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
bukan yang LCT
itu juga di ketapang tapi sisi selatan
klo meneng itu untuk petikemas dan kapal barang
bahkan klo lage beruntung bisa ketemu KRI yang lage sandar


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 4 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum

cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group