Grage Aeromodelling

Komunitas Aeromodelling Nusantara
It is currently 23 Mar 2019, 05:06

All times are UTC + 7 hours




Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5
Author Message
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 16:01 
Offline
Senior Master Sergeant
Senior Master Sergeant
User avatar

Joined: 20 Aug 2008, 04:30
Posts: 525
Location: Surabaya
lanjut dul...


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 16:04 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
siaaaap pak
ini sedang cari2 artikel tempat2 Di banyuwangi
yang dulu pernah saya kunjungi biar klo ada temen2 yang sekedar mau berkunjung bisa saya antar.
atau memberi masukan


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 20 Jul 2012, 16:35 
Offline
Technical Sergeant
Technical Sergeant
User avatar

Joined: 03 Jun 2009, 12:00
Posts: 386
Location: Banyuwangi
dulbehek wrote:
rowo bayu . saya pernah kesana 1 kali kesan pertama adalah tenang dan damai.
yah ini adalah rowo (daau) saksi bisu kehancuran orang2 blambangan dan saksi bisu pembunuhan masal dan penghapusan ras.
yang di lakukan oleh kerajaan mataram islam, dan belanda beserta antek anteknya
yang berlatar belakang ketamakan dan agama. hingga sekarang sisa sisa pergulatan jaman itu masih tersisa menjadi kebhinekaan dalam berkeyakinan dan berbudaya.
walau sisa sisa itu juga meninggalkan kebencian yang mendalam
Image
Rowo Bayu

Medan berat yang kami tempuh saat menuju wisata air terjun Lider membuat kami sedikit kapok untuk kembali menempuh rute yang sama, apalagi cuaca saat itu sedang hujan lebat disertai petir. Melewati jalan berbatu penuh dengan tanah liat yang basah adalah sebuah tindakan yang sedikit nekat kurasa. Akhirnya kami putuskan untuk menempuh rute lain dengan menuju kecamatan Songgon. Melewati luasnya perkebunan cengkeh dan tebu akhirnya kami sampai di rumah kawan lama di desa Sragi saat hari menjelang petang dan bersyukur Ia mengizinkan kami untuk menginap di kediamannya.

Tak terasa malam berjalan dengan cepatnya dan setelah berpamitan kami pun melanjutkan perjalanan menuju wisata sejarah Rowo Bayu yang merupakan Petilasan Prabu Tawang Alun, salah satu Raja Blambangan yang terkenal karena perang puputan bayu pada tanggal 18 Desember 1771 yang selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Rowo dalam bahasa Indonesia berarti “Rawa” sedangkan Bayu itu sendiri diambil dari nama desa “Bayu”, Rowo Bayu (Rawa di desa Bayu) begitulah penduduk sekitar menyebut kawasan yang dianggap sakral ini. Rawa sering diidentikkan sebagai tempat yang tidak menyenangkan dengan air yang kotor berlumut dan banyak binatang buas semacam buaya atau biawak, namun untuk rawa yang satu ini “Rowo Bayu” sepertinya ada semacam pengecualian. Sumber mata air yang jernih dan nampak asri karena dikelilingi pepohonan nan rimbun adalah gambaran awal yang kami tangkap saat kami melihat kawasan ini. Belum lagi bangunan Candi Agung “Macan Putih” dan Petilasan Prabu Tawang Alun yang berdiri kokoh di atas bukit semakin menambah nuansa sejarah nya. Salah satu juru kunci Rowo Bayu menjelaskan kepada kami bahwa Prabu Tawang Alun pernah melakukan pertapaan di bawah sumber air suci “Kamulyan” hingga mendapatkan petunjuk untuk menaiki macan putih dan mengikuti perjalanan ke hutan sudhimoro seluas 4 km2 yang selanjutnya oleh beliau dijadikan keraton “Macan Putih”.

Kami semakin hanyut dalam cerita sejarah Blambangan manakala seorang budayawan yang juga seorang dokter spesialis radiologi dari Bali Bapak Pageh Badunggawa mempresentasikan hubungan Raja Jawa sampai Raja Blambangan melalui sebuah bagan silsilah raja-raja dalam kertas karton besar. Pengunjung yang sebelumnya hanya melihat dari kejauhan, akhirnya tertarik untuk ikut dalam perbincangan kami sampai diadakanlah sesi tanya jawab antara pengunjung dan Bapak Pageh Badunggawa dengan topik bahasan “Sejarah Blambangan” selama kurang lebih 1 (satu) jam lamanya dan sebagai tanda perpisahan, sebuah buku “Babad Tanah Blambangan” IKAKI Blambangan menjadi bonus untuk kami.

sumber http://blambangan.web.id/artikel-berita ... desa-bayu/


Ini deket banget sama rumahku bang Dul...
saya di desa Sumberarum Songgon..dulu namanya Sragi pasar.. kapan mampir ya...


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 21 Jul 2012, 08:13 
Offline
Senior Master Sergeant
Senior Master Sergeant
User avatar

Joined: 04 Jul 2012, 14:45
Posts: 631
Location: Bunderan HI Jakarta
dulbehek wrote:
bukan yang LCT
itu juga di ketapang tapi sisi selatan
klo meneng itu untuk petikemas dan kapal barang
bahkan klo lage beruntung bisa ketemu KRI yang lage sandar

:hah salah ya.. he.. he.. he.. :shy


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 21 Jul 2012, 13:48 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
abiazfa69 wrote:
dulbehek wrote:
rowo bayu . saya pernah kesana 1 kali kesan pertama adalah tenang dan damai.
yah ini adalah rowo (daau) saksi bisu kehancuran orang2 blambangan dan saksi bisu pembunuhan masal dan penghapusan ras.
yang di lakukan oleh kerajaan mataram islam, dan belanda beserta antek anteknya
yang berlatar belakang ketamakan dan agama. hingga sekarang sisa sisa pergulatan jaman itu masih tersisa menjadi kebhinekaan dalam berkeyakinan dan berbudaya.
walau sisa sisa itu juga meninggalkan kebencian yang mendalam
Image
Rowo Bayu

Medan berat yang kami tempuh saat menuju wisata air terjun Lider membuat kami sedikit kapok untuk kembali menempuh rute yang sama, apalagi cuaca saat itu sedang hujan lebat disertai petir. Melewati jalan berbatu penuh dengan tanah liat yang basah adalah sebuah tindakan yang sedikit nekat kurasa. Akhirnya kami putuskan untuk menempuh rute lain dengan menuju kecamatan Songgon. Melewati luasnya perkebunan cengkeh dan tebu akhirnya kami sampai di rumah kawan lama di desa Sragi saat hari menjelang petang dan bersyukur Ia mengizinkan kami untuk menginap di kediamannya.

Tak terasa malam berjalan dengan cepatnya dan setelah berpamitan kami pun melanjutkan perjalanan menuju wisata sejarah Rowo Bayu yang merupakan Petilasan Prabu Tawang Alun, salah satu Raja Blambangan yang terkenal karena perang puputan bayu pada tanggal 18 Desember 1771 yang selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Banyuwangi. Rowo dalam bahasa Indonesia berarti “Rawa” sedangkan Bayu itu sendiri diambil dari nama desa “Bayu”, Rowo Bayu (Rawa di desa Bayu) begitulah penduduk sekitar menyebut kawasan yang dianggap sakral ini. Rawa sering diidentikkan sebagai tempat yang tidak menyenangkan dengan air yang kotor berlumut dan banyak binatang buas semacam buaya atau biawak, namun untuk rawa yang satu ini “Rowo Bayu” sepertinya ada semacam pengecualian. Sumber mata air yang jernih dan nampak asri karena dikelilingi pepohonan nan rimbun adalah gambaran awal yang kami tangkap saat kami melihat kawasan ini. Belum lagi bangunan Candi Agung “Macan Putih” dan Petilasan Prabu Tawang Alun yang berdiri kokoh di atas bukit semakin menambah nuansa sejarah nya. Salah satu juru kunci Rowo Bayu menjelaskan kepada kami bahwa Prabu Tawang Alun pernah melakukan pertapaan di bawah sumber air suci “Kamulyan” hingga mendapatkan petunjuk untuk menaiki macan putih dan mengikuti perjalanan ke hutan sudhimoro seluas 4 km2 yang selanjutnya oleh beliau dijadikan keraton “Macan Putih”.

Kami semakin hanyut dalam cerita sejarah Blambangan manakala seorang budayawan yang juga seorang dokter spesialis radiologi dari Bali Bapak Pageh Badunggawa mempresentasikan hubungan Raja Jawa sampai Raja Blambangan melalui sebuah bagan silsilah raja-raja dalam kertas karton besar. Pengunjung yang sebelumnya hanya melihat dari kejauhan, akhirnya tertarik untuk ikut dalam perbincangan kami sampai diadakanlah sesi tanya jawab antara pengunjung dan Bapak Pageh Badunggawa dengan topik bahasan “Sejarah Blambangan” selama kurang lebih 1 (satu) jam lamanya dan sebagai tanda perpisahan, sebuah buku “Babad Tanah Blambangan” IKAKI Blambangan menjadi bonus untuk kami.

sumber http://blambangan.web.id/artikel-berita ... desa-bayu/


Ini deket banget sama rumahku bang Dul...
saya di desa Sumberarum Songgon..dulu namanya Sragi pasar.. kapan mampir ya...

oke paaak
pasti mampir.
rumah ku di dekete Alun2 banyuwangi Kota
dulu sering maen di rogojampi waktu masih punyak cewek di belakang pasar.


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 21 Jul 2012, 15:30 
Offline
Technical Sergeant
Technical Sergeant
User avatar

Joined: 03 Jun 2009, 12:00
Posts: 386
Location: Banyuwangi
Seep mas....
kapan2 mabur bareng yo... :ide :ide


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 21 Jul 2012, 19:22 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
:ha3 :ha3
oke mz.
tapi woro2 nya ojok dadakan yah mz.
soale pesawat q ada di jember


Top
 Profile  
 
 Post subject: Re: Mari mengenal ujung timur pulau jawa
PostPosted: 03 Aug 2012, 22:52 
Offline
Second Lieutenant
Second Lieutenant
User avatar

Joined: 17 Nov 2009, 08:49
Posts: 1084
Location: banyuwangi - jember
tak Etis rasanya Jika tak Membahas Penduduk Asli Belambangan.
kenapa saya Bilang belambangan Bukan banyuwangi.
karena Belambangan adalah Skup lebih Luas dari Banyuwangi.
mungkin Temen2 sudah Kenal Dengan Suku Osing.
yah Suku Asli yang Dahulunya Menghuni seantero Belambangan (lumajang, Jember, Bondowoso, Probolinggo, Banyuwangi)
sekarang Tinggal di Banyuwangi dan sedikit Di jember.
suku Inilah yang Mendidik Karakter saya.
karakter Berani Jika Benar dan Takut Jika salah.
Karakter Yang menerima dan Iklas akan yang Ada.
karakter Bahwa seburuk2 nya masalah adalah Masalah Wanita
:ha3 :ha3 :ha3 .
5 Tahun Lalu saya masih Sering Bercengkrama dengan Bahasa Using tapi Sekarang.
he he he he mending jangan suruh saya bicara Usingan bisa Ketawa semua.

monggo didengarkan sedikit Lagu Using


Asal-Usul Nama Suku Osing Banyuwangi
Posted on 9 November 2011 by Mas Say Laros
Predikat Using dilekatkan kepada masyarakat Blambangan karena kecenderungan mereka menarik diri dari pergaulan dengan masyarakat pendatang pasca perang Puputan Bayu. Pendudukan VOC di Blambangan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja untuk menjalankan usaha-usaha eksploitasi di Blambangan. Oleh karena itu, kemudian VOC mendatangkan banyak pekerja dari Jawa Tengah dan Madura dalam jumlah besar,sementara sisa-sisa masyarakat Blambangan /wong osing yang mayoritas telah memilih untuk mengucilkan diri di pegunungan.

Sesekali interaksi terjadi, antara masyarakat asli dan pendatang. Dalam interaksi tersebut, masyarakat asli acapkali menggunakan istilah “sing” atau “hing” yang berarti “tidak”. Dari sanalah penamaan Wong Using berasal. Sementara masyarakat asli menyebut kaum pendatang dengan istilah “Wong Kiye”. Selain perkataan “tidak” yang mencirikan penolakan interaksi dengan pendatang, masyarakat Using juga menggunakan peristilahan yang “kasar” seperti asu, celeng, luwak, bajul atau bojok. Menurut Hasnan Singodimayan, peristilahan itu selain sebagai bahasa sandi juga mempertegas penolakan masyarakat Using terhadap berbagai bentuk “penjajahan” yang dialami dalam perjalanan sejarah mereka.

Penduduk sisa-sisa rakyat Blambangan yang mendiami wilayah Kabupaten Banyuwangi, sebagian Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang disebut masyarakat Using. Dulu sebelum dibakukan, banyak menulis dengan kata “Osing” kadang juga “Oseng”, namun setelah diurai secara fonetis oleh pakar Linguisitik dari Universitas Udayana Bali (Prof Heru Santoso), diperoleh kesepakatan resmi dengan menulis kata “Using” yang berarti “Tidak”. Pertanyaannya, kenapa orang asli Blambangan disebut Using? Penyebutan itu, sebetulnya bukan permintaan orang-orang Blambangan. Ini lebih merupakan ungkapan prustasi dari penjajah Belanda saat itu, karena selalu gagal membunjuk orang-orang sisa Kerajaan Blambangan untuk bekerja sama. Kendati pimpinan mereka sudah dikalahkan, tetapi tidak secara otomatis menyerah kepada musuh. Sikap yang sama, juga ditujukkan saat awal-awal Orde Baru berkuasa, orang Banyuwangi paling susah diajak kerja sama, atau menjadi pegawai Negeri. Mereka masih menganggap, pemerintahan yang ada tidak jauh berbeda dengan penjajah Belanda.

Meski akhirnya sikap “Sing” ini berangsur-angsur melunak, dengan banyaknya orang Using yang menjadi pegawai negeri, atau masuk ranah-ranah publik yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, namun nama “Using” sudah terlanjur melekat. Bahkan tumbuh kebanggan kolektif, bila disebut sebagai orang Using. Setelah generasi-generasi muda itu, tahu sejarah bagaimana nenek moyangnya berjuang mati-matian, mempertahankan wilayah dan harga diri.

Perang “Puputan” atau juga dikenal perang habis-habisan, akhirnya dijadikan tonggak hari lahirnya Kabupaten Banyuwangi. Pertimbangannya, semangat heroik dari tentara Blambangan ini diharapkan bisa menjadi tauladan. Bahkan seorang penulis asal Belanda menyebutkan, jika rakyat Blambangan hanya tinggal berapa ribu saja. Sebagai bentuk penekanan terhadap warkat Blambangan, kepala laskar Blambangan yang kalah perang, ditancapkan di sepanjang jalan. Meski demikian, sisa rakyat Blambangan tidak langsung menyerah dan tunduk kepada musuh. Mereka memilih mengungsi ke gunung atau membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa sandi, berupa nama-nama bintang. Kelang bahasa sandi ini menjadi umpatan khas wong Using. Selain itu, bahasa Using dikenal mempunyai ratusan dialek. Setiap kampung-kampung Using, bisa diidentifikasi dari cara mereka berbicara dan berpakaian. Misalnya dalam satu pertemuan besar di sebuah lapangan, maka mereka akan mudah mengenali orang Using dari daerah mana, dari cara mereka berbicara.

Selain itu, ternyata kampung-kampung Using tidak ada yang menghadap jalan raya. Umumnya kampung Using itu merupakan jalan kecil dari sebuah jalan raya beraspal, kemudian di kawasan itu berjubel pemukiman. Meski berada di pedesaan, namun kampung-kampung Using terkenal padat. Ini ternyata tidak lepas dari sejarah masa lalu wong Using yang selalu dilanda ketakutan, pasca kekalahan laskar Blambangan pada Perang Puputan Bayu. Mereka selalu berkelompok dan selalu mewaspadai kedatangan orang asing.

Akibat tidak mau bekerja sama dengan Belanda, praktis Wong Using mengkonsentrasikan hidupnya di sektor pertanian. Sementara sentra-sentra perekonomian lain di Banyuwangi, justru banyak ditempati orang di luar Banyuwangi. Sektor perkebunan yang rata-rata saat itu milik Belanda dan Inggris, banyak dikerjakan orang Madura. Saat itu, wong Using sangat menolak keras kerja sama dengan Belanda dan pemilik kebun. Sektor laut, justru banyak dilakukan orang-orang dari Madura, seperti di Muncar. Sektor pemerintahan bisa ditebak, tidak ada orang-orang Using yang mau bekerja di sektor ini. Meski diantara mereka ada yang sekolah hingga perguruan tinggi, namun tidak begitu saja orang-orang Using mengijinkan anaknya menjadi pegawai negeri. Mereka masih beranggapan, pemerintahan itu adalah penjajah, karena melanjutkan pemerintahan yang dibentuk Belanda. Sikap menolak bekerjasama dengan musuh ini, bisa dilihat dari keberadaan Pabrik Gula. Meski Banyuwangi merupakan wilayah pertanian yang subur, namun Belanda saat itu tidak berhasil memaksa warga Banyuwangi untuk menanam tebu sebagai pemasok pabrik gula. Padahal di Jember dan Situbondo, bertengger sejumlah pabrik gula. Nyaris kehidupan feodal hanya tumbuh di perkebunan, seperti di wilayah Glenmore dan Kalibaru.

Dari aspek seni-budaya, orang luar banyak menyatakan. jika budaya dan kesenian Banyuwangi merupakan perpaduan Jawa-Madura dan Bali. Pernyataan ini memang tidak terbantahkan, karena letak geografis Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali. Namun ada yang menarik dari catatan Sejarawan asal Belanda TG. Pigeaud dalam bukunya Runtuhkan Kerajaan Mataram Islam. Dalam buku itu disebutkan. jika wilayah Kerajaan Blambangan saat itu, menjadi rebutan antara Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung dengan kerajaan Mengwi di Bali. Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud menyatakan, suatusaat pengaruh Bali sangat kuat dalam segala aspek kehidupan rakyat Blambangan, maka saat itu pula pengaruh Mataram melemah. Namun apabila Mataram sudah bisa mengusai kembali sendi-sendi kehidupan di Blambangan, saat itu juga pengarusnya secara sosial kemasyarakat juga akan kuat. Dalam proses inilah, lahir kesenian semacam Janger yang mirip dengan langedrian yang ada di Yogyakarta, dengan cerita diambil dari Serat Damarwulan yang ditulis Pujangga di Kerajaan Mataram. Atau Kesenian Praburoro yang mengabil cerita Hikayat Amir Hamzah (Kata orang Using: Amir Ambyah), kesenian ini juga bisa ditemukan di Sleman DIY. Janger bentuk sampaan seperti Ketoprak, sedang Praburoro seperti Wayang Orang. Namun mocopat yang berkembang di Banyuwangi, bukan berasal dari kalangan Keraton, melainkan mocopat pesisiran. Nama-nama pupuhnya hampir sama, hanya ada penekanan pada pupuh-pupuh tertentu.

Setelah itu, orang-orang Mataraman atau bisa disebut Jowo Kulon mulai masuk Banyuwangi, trerutama daerah selatan. Mereka juga membawa kesenian, seperti wayang, Reog Ponorogo dan kesenian Jawa lainnya. Namun dalam perkembangannya, terjadi asimilasi. Misalnya, secara teknis seniman Banyuwangi itu mempunyai ciri khas dalam memukul alat musik, yaitu tekhnik timpalan. Ini terjadi baik cara memukul gamelan, maupun rebana (terbang).

Namun dalam kehidupan sosial, kadang orang-orang pendatang ini merasa lebih tinggi dibanding orang asli Banyuwangi. Mereka memang mengusai sektor-sektor formal. Misalnya pegawai Negeri di Kabupaten hingga Kecamatan, banyak dijabat orang pendatang. Mereka yang masih selaran dengan perjuangan Mataram ini, kadang memandang orang asli Banyuwangi sebelah mata. Padangan orang terbelakang dan tidak mau diajak maju, kadang sulit dihilangkan. Apalagi pada saat jaman pergolakan poilitik, kesenian dan senimam Banyuwangi yang yang tergabung dan digunakan propaganda oleh PKI. Lengkap sudah penderitaan sisa-sisa Laskar Blambangan ini.

Sebagai pemilik syah atas warisan leluhurnya,ternyata orang-orang Using sangat sulit memperjuangkan Bahasa Using sebagai materi ajar di sejumlah sekolah dasar. Ini tidak heran, karena para pejabat di Pemkab Banyuwangi dan Dinas Pendidikan saat itu, memang dijabat orang Jowo Kulonan. Mereka masih beragapan sebagai penjajah, karena menganggap Bahasa using sebagai sub-dealek dari Bahasa Jawa. Padahal berdasarkan penelitian Profersor Heru Santoso, Using bukan sebagai dialek-Jawa,tetapi sudah merupakan bahasa sendiri. Tentu kaidah-kaidah menetukan suatu bahasa disebut bahasa sendiri, bukan sebagai dialek, sudah dikupas panjang lebar oleh Pakar Linguistik dari Udayana Bali ini.

Bahkan peneliti dari Balai Bahasa Yogyakarta, Wedawaty menyebutkan, jika bahasa Using dan Bahasa Jawa itu kedudukannya sama sebagai turunan dari Bahasa Jawa Kuno ayau Bahasa Kawi. Bahasa Jawa sekarang lebih berkembang, terutama adanya strata atau tingkatan bahasa sesuai kasta dan umur. Namun bahasa Using terlihat lebih statis, karena tidak mengenal tingkatan tutur, seperti Bahasa kawi induknya. Bahkan Budayawan using, Hasan Ali menduga, kota kata Bahasa Bali dalam Balines-Nederland yang disusun seorang misionaris Belanda adalah kota kata Bahasa using, karena penyusunlan puluhan tahun tinggal di Blambangan, sebelum bisa menyebrang ke Bali.

Alahmdullah, setelah puluhan tahun perjuangan, akhirnya Bahasa Using diajarkan di tingkat SD dan SMP. Ini tidak lepas dari uapaya keras dari Budayan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan Budayawan Hasan Ali yang menyusun Kamu Using. Berngasur-angsur wong Using juga mulai menunjukkan eksistensi dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan sempat menempatkan Syamsul Hadi yang orang Using sebagai Bupati, meski akhirnya terjerat sejumlah kasus korupsi. Sebelumnya, Bupati Banyuwangi selalu dijabat orang dari luar dan tentara tentunya. Saat Orde Lama pernah dijabat M Yusuf, itupun sementara setelah Bupati aslinya terlibat PKI. Saat Orde Baru, ternyata meneruskan Mataram. Bisa percaya bisa tidak, dua pejabat Bupati banyuwangi berasal dari Mojokerto (dulu Majapahit), yaitu Djoko Supaat dan T. Pornomo Sidik. Saat Mataram menguasai Blambangan, juga menggunakan backgorund Majahit dalam cerita Damarwulan untuk mendiskreditkan Raja Blambangan…..

Newsletter Ngaji Budaya PUSPeK Averroes, 2003
hasansentot2008.blogdetik.com

http://osingketarajasa.wordpress.com

besok coba cari masalah Perang Puputan Bayu.
perang Paling kejam dan ada Orang bilang genosida Ala belambangan


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 48 posts ]  Go to page Previous  1, 2, 3, 4, 5

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 7 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum

cron
Powered by phpBB © 2000, 2002, 2005, 2007 phpBB Group