Autorotation dengan TREX
Moderators: Budiman, irsansaputra
- sony
- Technical Sergeant

- Posts: 568
- Joined: 08 Jul 2007, 06:05
ini yang mau di auto itu heli kelas 450 atau 500
kalau kayak V2,SE & Xl kayaknya gak dapat itu putarannya
tapi kalau trex600 saya sering liat tuh senior2 pada auto enak2 aja tuh landingnya alus banget apa tergantung jempolnya ya?
kalau yang saya liat sebelum auto mereka pasti pada hidupin idle semua trus dengan posisi menukik dan lgs dimatiin kemudian bbrrrrrbrbrrrr landing dech ( they make it easy ):(
kalau kayak V2,SE & Xl kayaknya gak dapat itu putarannya
tapi kalau trex600 saya sering liat tuh senior2 pada auto enak2 aja tuh landingnya alus banget apa tergantung jempolnya ya?
kalau yang saya liat sebelum auto mereka pasti pada hidupin idle semua trus dengan posisi menukik dan lgs dimatiin kemudian bbrrrrrbrbrrrr landing dech ( they make it easy ):(
- DeVIN
- Master Sergeant

- Posts: 887
- Joined: 22 May 2007, 05:55
- Location: Tasbi MEDAN
- Contact:
Franky wrote:Wah berarti mesti hati-hati juga dengan simulator tuh... soalnya di Reflex XTR saya coba pake TREX SE or TREX XL bisa autorotation
huahahaha...
Om franky, masalah autos di replex berhubungan dengan paramater (tekan F11, menu modify physical parameter) main rotor, cari "blade moment of inertia".
Pakar trex, Ashley (dari trextuning.c*m), yang buat seting model pertama trex 450 tuk reflex, dan dipercaya kembali tuk seting model trex 450 di Phoenix juga, mennyarankan tuk paramater "blade moment of inertia" yang paling real adalah = 0.003.
Kalau digampangin sih bisa om, besarin aja value tersebut, maka helinya malah bisa melayang terus,...he3x.
Mukti wrote:Coba pitch hold nya minimum -4deg
Nah kalo di reflex, agar momen inertia blade terus ada (jadi blade gak stop dan crash) maka jika auto normal, misal diketinggian 25m, aktifkan hold, posisi stick throtle (yang fungsinya tuk pitch aja, karena di hold) pertahankan dulu di paling bawah (paling minimal) agar inersianya terus ada, begitu mau nyium tanah, sekitar 3 meteran sticknya di up ke tengah, agar agak ngerem, dan ketika mo landing dibawah 1 meter, baru stick diup lagi ke positif biar agar "nendang" keatas.
Nah kalo Om mukti nyaranin pitch hold minimal -4 maka terbatas pula pitch minimal yang membiarkan aliran udara yang mendorong kembali blade (ini yang terjadi alias momen inersia blade terus ada) tersebut, jadi biarkan minimalnya sama dengan setingan idle, namun dibatasi sendiri pemakaian pitchnya agar gak turun seperti "batu". hehe3x.
Franky wrote:Keliatannya sih pitchnya dapet... cuma RPM nya aja yg ga dapet om...
padahal t-hold udah di set 20%, yg artinya pada saat switch T-Hold diaktifkan,
throttle minimal yaitu 20% walaupun gimbal throttle pada posisi 0%...
apa mungkin mesti coba brakenya dimainin dari ESC ya?
Nah, kalo throtle masih aktif walaupun 20%, beserta ESC yang aktif juga, maka gimana udara yang membantu inersia blade tersebut??? bukankah blade pada auto berputar - free, yang terjadi adalah kalau kira2 tak terselamatkan, aktifkan kembali hold sebagai recovery. Throtle aktif, Esc aktif, apalagi seting ESC brake = on, yang terjadi malah ini yang ngerem blade yang berputar - free tersebut.
Om sinto udah ok tuh. Bener semua.
rpramusinto wrote:om franky.. dari pengalaman saya.. trex 450 bisa di pakakai autorotation... dgn kondisi kurang lebih sebagai berikut..
teori dari autorotation adalah dgn memanfaatkan momentum/sisa putaran blade dan digunakan untuk menahan laju heli jatuh kebumi. untuk bisa mendapatkan momentum yg ideal ada lagi bbrp parameter yg harus ditinjau.
pertama, gunakanlah blade yg sedikit lebih berat atau panjang.sangat disarankan memakai blade carbon,jika anda memakai blade kayu ALIGN, usahakan pake yg 325, kalo pakai yg 315 momentum yg didapat hanya sedikit. dan keburu habis sebelum heli mendarat.
kedua, momentum blade memang pas-pasan untuk trex 450, mengakalinya kita bisa menambahkan head speed pada saat hendak autorotation. singkat kata.... kalo anda terbang dgn normal mode. pastikan head speed anda cukup kencang atau throttle pada minimal 80%. atau bisa juga dgn cara memakai idle up sesaat sebelum autorotation, hanya sekedar untuk meningkatkan head speed lalu mng klik throttle hold, dan melakukan autorotation. intinya, head speed harus cukup, apabila anda auto pada keadaan normal dan hover, dimana head speed relatif kecil (saya kurang tau brp RPM) maka auto akan menjadi sulit.
untuk setting ESC saya rasa gak ada yg salah dgn setting anda. jadi gak perlu ngerubah ESC anda, dan untuk posisi throttle hold saya memberikan 0% alias motor cut.. untuk memberikan efek auto yg sebenaranya. - ini saya jelaskan sebelumnya
hal lain, memang dibutuhkan latihan untuk bisa autorotation dgn baik dan benar, hanya masalah timing kapan kita harus pitch negatif dan kapan kita harus angkat pitch ke positif. - ini saya jelaskan sebelumnya
maaf kepanjangan.. semoga membantu. soalnya dgn cara ini saya sudah bisa auto. walaupun ttp trex 450 tidak bisa sebagus heli besar autorotation nya...
Nah, kalo masalah blade berat, memang disarankan pula blade yang pake pemberat pada bagian tip (ujungnya), biar inersianya gede serta penjelasan om Sony yang menyarankan dibantu momen dari forward flight - menukik - jadi ada aliran udara dari depan.
Semoga bermanfaat.
- andre77
- Senior Master Sergeant

- Posts: 1472
- Joined: 17 Jan 2007, 14:38
- Location: BANJARMASIN
- Contact:
- jstnt
- Senior Airman

- Posts: 202
- Joined: 29 Oct 2007, 22:50
- Location: Jakarta (ASAC)
- Contact:
Untuk autorotation saya mencoba pada ketinggian 1.8 meter dan bisa landing dengan baik. setting pitch untuk t hold -4 jadi sewaktu dihold pada saat idle baru masuk hold sehingga putarannya tinggi, coba dicek one way bearingnya mulus nggak (penting), sewaktu meluncur jangan ditahan pitchnya biarkan saja turun tp pas dekat ke tanah harus pada saat tepat dinaikin pitchnya sehingga menahan. begitu sih kalo saya nggak tau gimana menurut rekan lainnya
- jstnt
- Senior Airman

- Posts: 202
- Joined: 29 Oct 2007, 22:50
- Location: Jakarta (ASAC)
- Contact:
- yuda
- Staff Sergeant

- Posts: 488
- Joined: 12 Oct 2007, 15:02
- Location: kendal (jateng)
- Contact:
- Franky
- Senior Airman

- Posts: 144
- Joined: 13 Mar 2007, 11:13
- Location: Jakarta
- Contact:
Wah terima kasih atas petunjuk para suhu nih...
Om Mukti, Om Sinto, Om Devin, Om jstnt dkk....
saya udah coba dari ketinggian ± 1 meter, dan ternyata berhasil...
maksudnya berhasil hard landing dan sukses mematahkan landing skid...
untung cuma landing skid,
krn mendarat di tanah yg empuk dan rumput yg tebal.
Mungkin harus di cek one way bearingnya dulu nih, soalnya momentumnya langsung hilang ketika T-hold diaktifkan,
bladenya seperti langsung nge-rem... sepertinya memang ada yg mengambat putaran blade, mungkin belt terlalu kencang atau rotor head ada masalah...
Ntar setelah semua dibenerin mau coba lagi ah,
there's a cost to be an expert for each manuvers... and I'm willing to take it...
hehehe sok sok pake bhs inggris, krn lg makan pizza
Sekali lagi Terima kasih atas saran dari rekan-rekan semuanya...
Om Mukti, Om Sinto, Om Devin, Om jstnt dkk....
saya udah coba dari ketinggian ± 1 meter, dan ternyata berhasil...
maksudnya berhasil hard landing dan sukses mematahkan landing skid...
untung cuma landing skid,
krn mendarat di tanah yg empuk dan rumput yg tebal.
Mungkin harus di cek one way bearingnya dulu nih, soalnya momentumnya langsung hilang ketika T-hold diaktifkan,
bladenya seperti langsung nge-rem... sepertinya memang ada yg mengambat putaran blade, mungkin belt terlalu kencang atau rotor head ada masalah...
Ntar setelah semua dibenerin mau coba lagi ah,
there's a cost to be an expert for each manuvers... and I'm willing to take it...
hehehe sok sok pake bhs inggris, krn lg makan pizza
Sekali lagi Terima kasih atas saran dari rekan-rekan semuanya...
- jstnt
- Senior Airman

- Posts: 202
- Joined: 29 Oct 2007, 22:50
- Location: Jakarta (ASAC)
- Contact:



wah.... ajarin gua donk....